Rabu, 24 Oktober 2018 | 04:29:10 WIB

Banyak Ormas Menuduh Patung di Tugu Tani di Jakpus Sebagai Lambang PKI

Minggu, 19 Maret 2017 | 15:13 WIB
Banyak Ormas Menuduh Patung di Tugu Tani di Jakpus Sebagai Lambang PKI

Patung itu juga dibuat karena tak luput dari kekaguman Presiden Soekarno terhadap sejumlah karya seni patung, kala berkunjung ke Soviet. (FOTO: OKEZONE/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Suatu ketika kala penulis kembali dari kampung halaman dengan kereta api yang turun di Stasiun Gambir, ada keinginan untuk menuju kantor di bilangan Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat dengan berjalan kaki. Di tengah-tengah perjalanan, satu pemandangan yang bikin penasaran di bundaran Tugu Tani.

Ya apalagi kalau bukan Tugu Tani itu sendiri yang menggambarkan seorang lelaki tegap bertelanjang dada, bercelana pendek dan bertopi caping khas petani, namun tangan kirinya menyandang senapan laras panjang lengkap dengan bayonet mengacung ke atas.

Di kirinya, ada sosok wanita berbusana kebaya tengah memajukan tempat makanan yang dibawanya ke hadapan sang lelaki. Sedikit banyak, kok “citra” yang tercipta dari sepasang patung itu merujuk pada “Angkatan Kelima” ya.

Sebagaimana diketahui, Angkatan Kelima adalah gagasan revolusioner Partai Komunis Indonesia (PKI) di masa lalu yang diajukan ke Presiden pertama RI Ir Soekarno.

Saat situasi penuh gejolak, mulai dari seruan tentang pembebasan Irian Barat hingga “Ganyang Malaysia”, PKI tidak ingin hanya empat angkatan resmi (TNI AD, AL, AU dan Polisi) yang berperan dalam hal keamanan.

Mereka mengusulkan buruh dan tani dipersenjatai sebagai Angkatan Kelima, meniru hal serupa yang lebih dulu eksis di Uni Soviet dan Republik Rakyat China, di mana buruh dan tani dipersenjatai dan dilatih kemiliteran. Namun usulan itu ditolak mentah-mentah TNI AD.

Ya, jadinya Tugu Tani oleh beberapa pihak justru diidentikkan dengan PKI. Seperti yang terjadi pada 2001 dan tahun lalu. Pada 2001, sebuah kelompok yang mengatasnamakan Aliansi Antikomunis, mengancam akan merobohkan patung itu.

Begitu pun tahun lalu. Tepatnya pada 25 Mei 2016 dalam sebuah pertemuan yang dihelat Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) di Jakarta, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad al-Khaththath, tegas menyatakan patung itu justru disakralkan para simpatisan PKI.

“Itu (Tugu Tani) disakralkan oleh mereka sebagai lambang kejayaan PKI. Buktinya dari Orde Lama sampai sekarang, itu tidak pernah dirobohkan,” cetus Al-Khaththath di pertemuan yang diadakan di Hotel Arya Duta itu.

“Itu senjatanya dibawa berpuluh-puluh tahun, kok enggak ditangkap polisi? Seharusnya kalau Ahok (Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama) bukan PKI, itu sudah perintahkan Satpol PP untuk merobohkan, untuk mencabut patung itu,” imbuhnya.

Tapi terlepas dari itu, ada baiknya menyimak beberapa sumber terkait sejarah patung itu. Dilansir dari laman pengetahuan Pemerintah Provinsi DKI, yakni Ensiklopedia Jakarta, patung itu sama sekali tidak menyinggung tentang PKI.

Tugu Tani juga dijelaskan punya nama asli “Patung Pahlawan”. Patung itu menggambarkan seorang petani yang siap bela negara, sementara sosok wanita di sampingnya adalah penggambaran sosok ibu yang mendukung penuh putranya berjuang demi Indonesia.

Patung Pahlawan itu memang pada dasarnya, dibuat oleh dua seniman bersaudara asal Uni Soviet (kini Rusia), yakni Matyev dan Ossip Manizer. Patung itu dibuat sebagai hadiah dan lambang persahabatan untuk Indonesia.

Patung itu juga dibuat karena tak luput dari kekaguman Presiden Soekarno terhadap sejumlah karya seni patung, kala berkunjung ke Soviet. Adapun ide penggambaran sosoknya, tak lepas dari cerita-cerita tentang seorang ibu yang mendukung putranya berperang demi Indonesia, saat mengunjungi Indonesia pada 1960.

Ya, setidaknya penjelasan itu jadi “penawar” tersendiri dari isu-isu bahwa patung itu identik dengan PKI. Kalau masih tidak percaya, tengok saja deh plakat pada voostuk-nya yang bertuliskan: “Bangsa yang Menghargai Pahlawannya adalah Bangsa yang Besar”. (OKE/AMAT)

Berita Terkait