Rabu, 27 Januari 2021 | 08:18:22 WIB

Gempa Donggala dan Tsunami Benar Terjadi Meski Peringatan Dini Dicabut

Jum'at, 28 September 2018 | 23:09 WIB
Gempa Donggala dan Tsunami Benar Terjadi Meski Peringatan Dini Dicabut

Seorang anak melintas di depan rumah yang roboh akibat gempa di Donggala, Sulawesi Tengah. (FOTO: ANTARA/LINDO)

DONGGALA, LINDO - Kepala BMKG Dwi Korita Karmawati memastikan bawah benar terjadi tsunami, menghantam kawasan pantai Talise, Kota Palu dengan ketinggian hingga 1,5 meter akibat gempa berkekuatan 7,7 pada skala Richter yang mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah, tetapi air sudah surut.

"Dari pemantauan di lapangan, benar terjadi tsunami, dan bahwa video yang beredar itu memang benar," kata Dwi Korita Karmawati dalam jumpa pers di kantor BMKG, Jumat malam (28/9).

"Tsunami mencapai ketinggian sekitar 1,5 meter, terjadi pada pukul 17:32. Namun kemudian setelah beberapa lama, air sudah surut," katanya.

Di media sosial beredar video yang menunjukkan ombak besar menerjang pantai sekitar pesisir Palu. Video lain menunjukkan, air bah menerjang masuk pemukiman. Belum jelas apakah jatuh korban. Selain di Palu dan Donggala, tsunami juga melanda Mamuji di Sulawesi Barat.

Pengumuman bahwa terjadi tsunami akibat gempa di Donggala disampaikan beberapa jam setelah peringitan dini tsunami dicabut.

Dua gempa di Sulawesi Tengah dalam selang tiga jam sempat memicu peringatan tsunami yang kemudian dicabut dan gempa besar itu diikuti dengan gempa-gempa susulan. Sejauh ini seorang warga meninggal dunia dan 10 luka akibat peristiwa pada Jumat (28/09).

Gempa pertama terjadi di Donggala, sekitar pukul 14:00, sementara gempa berikutnya terjadi pada pukul 17:02. Di antara dua gempa besar, terjadi setidaknya tiga gempa kecil lain, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Peringatan dini tsunami segera aktif saat gempa di Palu terjadi, "namun sesudah setengah jam situasi kondusif, sehingga peringatan tsunami diakhiri," Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

Disebutkan gempa pertama berkekuatan 5,9 skala Richter dengan pusat gempa 2 km utara Kota Donggala pada kedalaman 10 km. Di sini, gempa tidak berpotensi tsunami.Sementara gempa sesudahnya pada pukul 17:02 terjadi 27 km timur laut Donggala, atau 80 km barat laut Palu, dan menimbukan peringatan tsunami.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, kemudian mengatakan bahwa peringatan dini tsunami sudah berakhir untuk Donggala, Mamuju dan Palu.

Terjadi kerusakan di berbagai tempat, dengan banyak rumah rubuh. Warga di daerah yang terkena dampak, keluar dari rumah masing-masing, berkumpul di tempat terbuka.

Kondisi itu juga dialami oleh warga di Palu, sekitar 40 km dari Donggala. Menurut Eddy Djunaidi, wartawan Metro di Palu, warga mengungsi ke tempat-tempat lebih tinggi karena khawatir akan tsunami.

"Kondisi di sekitar rumah gelap gulita," tuturnya.

Getaran gempa bahkan dapat dirasakan di Gorontalo, sekitar 576 kilometer dari pusat gempa di Donggala.

"Goyangnya agak lama. Bukan sekali getar langsung selesai, terus disusul goyang. Bukan begitu. Tetapi goyangannya lama. Orang pada saat keluar dari masjid, mereka diam, ada yang mengucapkan Subhanallah, Allahu Akbar, takbir. Mereka tidak begitu panik," tutur Rio, seorang warga Gorontalo.

Kepala Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Bambang Setiyo Prayitno, mengatakan berdasarkan peta gempa, gempa di Donggala adalah "gempa bumi tektonik diakibatkan sesar Palukoro, Selat Makasar".

"Kalau melihat dari peta dampak guncangan dari gempa bumi diperkirakan timbulnya kerusakan karena sudah mencapai sekitar 8 MMI di dekat sumber gempanya," tambahnya dalam wawancara dengan Nuraki Aziz untuk BBC News Indonesia.

Gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter dan susulan sebesar 7,7 skala Richter di Donggala, Sulawesi Tengah, ini terjadi satu bulan setelah gempa dahsyat Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Agustus 2018 lalu.

Namun gempa di Lombok dan Donggala tersebut tidak berkaitan.

"Tidak ada hubungannya sama sekali antara gempa di Lombok dengan di Palu Koro tadi, di Donggala. Hal yang berbeda, mekanismenya berbeda, sumber-sumber gempanya juga berbeda. Dan kedua daerah, baik di Lombok maupun di Donggala di sini juga memiliki sumber-sumber gempa." Demikian dijelaskan oleh Kepala Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa gempa di Donggala diikuti dengan gempa-gempa susulan, sebagaimana dengan gempa besar di Lombok.

"Berdasarkan historis yang kemarin di gempa Lombok, maka dengan gempa yang cukup besar ini kemungkinannya bisa sampai dua minggu ke depan akan terjadi gempa-gempa susulan. Namun kita belum menghitung karena datanya belum terkumpul semua, nanti akan dihitung berapa pastinya," jelas Bambang Setiyo Prayitno.

Karena gempa susulan itu, lanjutnya, masyarakat diharapkan untuk tetap waspada apalagi kondisi bangunan yang sudah melemah setelah gempa besar. Mereka disarankan untuk menghindari rumah-rumah yang sudah tidak layak. (CNNI)

Berita Terkait