Minggu, 25 Oktober 2020 | 06:47:19 WIB

Polres Batanghari Tangkap Delapan Penambang Minyak ilegal

Senin, 24 Desember 2018 | 23:58 WIB
Polres Batanghari Tangkap Delapan Penambang Minyak ilegal

Kapolres Batanghari AKBP Moh Santoso di dampingi Wakapolres dan Kasat Reskrim saat pres release penangkapan pelaku aktivitas penambangan minyak ilegal di Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari. (FOTO: ANTARA/LINDO)

JAMBI, LINDO - Kepolisian Resor (Polres) Batanghari menangkap delapan orang pelaku pertambangan minyak illegal di Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi.

“Penangkapan terhadap pelaku penambang minyak illegal ini dilakukan selama tiga hari, dan petugas kita berhasil menangkap delapan orang pelaku,” kata Kapolres Batanghari AKBP M Santoso di Muarabulian, Senin (24/12).

Pelaku penambang minyak illegal yang berhasil diamankan oleh polres daerah itu merupakan penambang minyak yang beroperasi di wilayah Desa Pompa Air dan Desa Bungku Kecamatan Bajubang. Pelaku yang berhasil diamankan tersebut merupakan pemodal dan pekerja terhadap aktifitas penambangan minyak illegal di daerah itu.

AKBP Moh Santoso mengtakan, dua dari delapan pelaku yang di tangkap merupakan pelaku pengolahan sebagai hasil illegal driling yang ada di Desa Pompa Air, dan para pelaku tersebut diamankan saat melakukan aktivitas pengolahan minyak mentah hasil penambangan secara illegal.

Selain mengamankan pelaku penambang minyak illegal, pihak kepolisian juga berhasil mengamankan beberapa barang bukti, diantaranya kendaraan roda dua, jerigen dan alat tambang minyak.

"Kita juga berhasil mengamankan tiga unit mobil yang digunakan sebagai alat angkut," kata AKBP Moh Santoso.

Polres Batanghari akan tetap melakukan upaya penindakan secara terukur. Selain itu juga akan melakukan koordinasi dengan Timdu (Tim Terpadu) daerah itu.  

Adapun pelaku-pelaku  tersebut berinisial OS, IF, SGM, PLT dan MHR. Lima pelaku ini berhasil diamankan pada tanggal 21 Desember 2018. Selanjutnya kembali dilakukan penagkapan terhadap pelaku berinisial ADL pada tanggal 22 Desember 2018.

ADL melakukan eksplorasi dan atau eksplotasi tanpa memiliki kontrak kerja sama sebagaimana di maksud dalam Pasal 52 Yo Pasal 11 ayat (1) UU RI Nomor 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi.

Kemudian pada tanggal 24 Desember 2018, petugas kembali meringkus dua pelaku berinisial KS dan RH. Kedua pelaku merupakan pengolah atau penyulingan minyak bumi tanpa memiliki izin usaha pengolahan.

“Kedelapan pelaku melanggar Pasal 52 Yo Pasal 11 ayat (1), Pasal 53 huruf a Yo Pasal 23 dan Pasal 53 huruf b Sub Pasal 23 UU RI Nomor 22 Tahun 2001, tentang minyak dan gas bumi dengan ancaman kurungan penjara di atas 5 tahun," kata AKBP Moh Santoso menambahkan.

(ANT)

 

Berita Terkait