Senin, 06 Juli 2020 | 02:33:05 WIB

Dibalik Mahalnya Avtur untuk Penerbangan

Minggu, 20 Januari 2019 | 16:29 WIB
Dibalik Mahalnya Avtur untuk Penerbangan

Sejumlah penumpang turun dari pesawat udara saat tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh (17/1/2019). Sejumlah perusahaan penerbangan diantaranya Garuda Indonesia menyatakan telah menurunkan harga tiket untuk penerbangan Banda Aceh-Jakarta hingga Rp1,6 juta dari sebelumnya mencapai Rp3,2 juta. (FOTO: ANTARA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Beberapa pekan terakhir khalayak ramai membicarakan mahalnya biaya transportasi untuk udara.

Lebih utama lagi adalah melambungnya harga tersebut mayoritas terjadi pada lalu lintas penerbangan rute domestik. Berbagai penyebab tingginya biaya jalur transportasi udara coba diuraikan.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai beberapa waktu lalu maskapai penerbangan terlalu besar menaikkan harga tiket pesawat, besarannya mencapai 85 persen dari harga normal.

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Indonesia (Inaca) sempat menguraikan,  salah satu alasan yang menjadi mahalnya tiket pesawat adalah tingginya harga bahan bakar yang menjadi operasional utama.

Dengan avtur sebagai bahan bakar utama pesawat dan menjadi biaya terbesar dalam operasional utama sehari-hari, sulit melihat harga turun drastis apabila harga avtur masih dinilai sebagai penyebab utama naiknya biaya terbang.

Lalu lantas apa yang menjadikan avtur begitu mahal untuk operasional pesawat?

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Djoko Siswanto sempat mengungkapkan kepada Antaranews.com bahwa penyebab kenaikan harga bahan bakar pesawat jenis Avtur adalah karena luasnya wilayah Indonesia.

"Ini masih perkiraan saya saja ya, kalau saya taksir penyebab utamanya adalah luasnya wilayah Indonesia dan terdiri dari ribuan pulau," katanya.

Djoko menjelaskan Indonesia yang berbentuk negara kepulauan menjadikan transportasi udara menjadi hal paling wajar untuk digunakan menjangkau antarwilayah.

Oleh karena itu, pemakaian Avtur akan menjadi lebih banyak, sebab menggunakan jalur darat dan laut untuk menghubungkan antarpulau masih belum memungkinkan serta dinilai kuranf efisien.

"Apalagi, untuk pengiriman logistik di pulau terpencil, pesawat perintis masih menjadi pilihan utama, sehingga rute penerbangan pendek antarpulau masih jamak dilakukan," katanya.

Banyaknya rute penerbangan antarpulau tersebut, lanjut Djoko, membuat konsumsi Avtur menjadi lebih banyak dibandingkan negara lain, sehingga harganya besar kemungkinan menjadi naik dan apalagi ketersediannya juga berkurang.

"Kalau dibandingkan negara Singapura yang kecil, kan pasti konsumsi Avturnya lebih banyak di Indonesia, wajar saja prediksi penyebab naiknya harga karena faktor geografis," kata Djoko.

Saat ini harga Avtur yang dijual Pertamina lebih mahal sekitar 20 persen dibandingkan harga internasional.

Data yang dihimpun Antara, pada tengah tahun 2018 harga avtur di Bandara Changi, Singapura sekitar 178 sen dolar AS/galon atau Rp6.583/liter. Harga ini termasuk yang paling murah di banding bandara-bandara lainnya di dunia, termasuk di Riyadh, Arab Saudi sekitar 200 sen dolar AS/galon atau Rp7.397/liter.

Sedangkan berdasarkan situs Pertamina Aviation, harga Avtur di Bandara Soekarno-Hatta mencapai Rp7.580 atau 0,56 dolar AS setiap liternya pada saat 2018 lalu,  itu sudah termasuk pengiriman ke pesawat namun belum menghitung PPN 10 persen dan PPh 0,3 persen khusus penerbangan domestik.

Dirjen migas sempat memberikan salah satu solusi untuk mengimbangi harga avtur agar dapat lebih sesuai dengan keekonomian tiket pesawat.

Djoko Siswanto menyarankan badan usaha lain turut menjual avtur, tidak hanya monopoli dari PT Pertamina.

"Salah satu cara benar tidaknya avtur Indonesia jauh lebih mahal dari negara lain, ya, coba ada badan usaha lain yang menjual avtur, selain Pertamina," kata Djoko.

Djoko menilai ketika tidak ada badan usaha lain yang menjual avtur maka penilaian harga tinggi belum bisa dinilai obyektif. Sedangkan kondisi di Indonesia masih dijual tunggal oleh Pertamina.

"Ya biar tidak terkesan monopoli saja, kan kalau ada persaingan usaha, harga bisa bersaing juga," katanya.

Hingga saat ini, menurut Dirjen Migas ada beberapa badan usaha yang sudah mengajukan proposal izin untuk menjual avtur, namun masih dipelajari dan dijajaki teknisnya.

"Sudah ada PT AKR yang mengatakan peminatan, tapi belum terealisasi pengajuannya, jadi detailnya saya belum bisa jelaskan juga," katanya.

Pertamina menjelaskan bagaimana kemungkinan harga avtur penyebab utama kenaikan tiket pesawat dapat terjadi.

Penentuan harga Avtur berdasarkan informasi Pertamina dibedakan menjadi dua macam reguler, yang artinya sudah termasuk langganan dan nonregular.

External Communication Manager Pertamina Arya Dwi Paramita mengatakan untuk ketentuan harga langganan atau reguler, harga bahan bakar pesawat yang digunakan oleh maskapai sudah ditentukan oleh kontrak jangka panjang sejak awal.

Kemudian, untuk jenis nonreguler atau tidak langganan harga avtur mengacu kepada harga terbaru ketika avtur dibeli,  sehingga harga tidak konsisten serta mengikuti harga pasar.

Sedangkan, harga Avtur mengacu Mean of Platts Singapore (MOPS). Sehingga, ketika harga minyak dunia turun, maka akan berbanding lurus di mana Avtur juga bisa menjadi turun secara dinamis mengikuti pasar minyak internasional.

Harga di Indonesia pun pada tiap bandara memiliki standard yang berbeda pada tiap wilayah. Wilayah timur Indonesia rata-rata harga avtur paling tinggi diantara yang lain,  sehingga biaya tiket ke arah timur Indonesia lebih mahal.

Harga turun

Menanggapi mahalnya transportasi udara, Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Carriers Association/INACA) akhirnya  sepakat untuk menurunkan harga tiket pesawat terbang, yang sempat melambung beberapa waktu belakangan.

Ironinya,  warga Banda Aceh memilih transit ke Malaysia dalam penerbangan mereka ke Jakarta. Harga tiket pesawat terbang penerbangan berbiaya rendah jalur Banda Aceh-Malaysia-Jakarta jauh lebih murah ketimbang penerbangan langsung Banda Aceh-Jakarta. Mereka rela membuat paspor untuk bisa transit di Malaysia itu.

"Kami berkomitmen untuk menurunkan harga tiket. Kami sejak minggu lalu, khususnya Jumat, sudah menurunkan tarif harga domestik," kata Ketua INACA, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra.

Keputusan itu diambil berdasarkan komitmen positif dari para pemangku kepentingan, yakni PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), Airnav, dan PT Pertamina (Persero). Selain itu, anggota INACA juga mendiskusikan keprihatinan masyarakat atas tingginya harga tiket penerbangan.

Menurut dia, beberapa tarif penerbangan domestik turun sejak 12 Januari 2019 di antara rute Jakarta-Denpasar, Jakarta-Yogyakarta dan Bandung-Denpasar, dan Jakarta-Surabaya. Diharapkan ketimpangan harga transportasi udara Indonesia tidak terjadi dalam jangka waktu lama serta mampu menjadi pendukung ekonomi nasional yang ekonomis.*

ANT

Berita Terkait