Senin, 24 Februari 2020 | 06:12:42 WIB

Pentingnya Pencegahan Hoax, Mapancas Provinsi Lampung Gelar Diskusi "Bincang Milenial”

Jum'at, 22 Februari 2019 | 16:34 WIB
Pentingnya Pencegahan Hoax, Mapancas Provinsi Lampung Gelar Diskusi

(FOTO : MAPANCAS/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Sebanyak 47 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Bandar Lampung, menggelar diskusi bertajuk "Bincang Melinial”, di Dunkin Donat, Kedaton, Bandar Lampung, Propinsi Lampung, Kamis (21/2).

Bincang Milenial ini digelar oleh DPP Mahasiswa Pancasila (Mapancas) Provinsi Lampung dengan tema “Literasi Digital Bagi Generasi Milenial Menuju Indonesia Anti Hoax” dan diikuti mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas (Univ.) Lampung, Univ. Malahayati, Univ. Darmajaya, Mahasiswa Polinela dan Pengurus Mapancas Lampung.

Beberapa narasumber yang memberikan pemaparan Diskusi tersebut, yaitu Heri Wardoyo (Dewan Penasehat Mapancas/Mantan Wakil Bupati Tulang Bawang), Ganjar Jationo (Kabid Diseminasi Informasi Dinas Kominfo Provinsi Lampung), Wulan Suciska (Dosen Ilmu Komunikasi Unila) dan Wiwik Hastuti (Jurnalis Senior Lampung Post/Anggota Muslimat NU Lampung.

Dalam Bincang Milenial ini, Ketua DPD Mapancas Provinsi Lampung Sugirin, mengajak anak milenial menjadi agen pencegahan hoax. “Kita mengajak anak milenial menjadi agen pencegahan hoax dengan tidak sembarangan share berita sebelum dilengkapi literasi digital yang resmi,” ujar Sugirin.

Dalam acara itu, Dosen Ilmu Komunikasi Unila Wulan Suciska, mengatakan, saat ini hoax sangat masif disebarkan di Media Sosial (Medsos), khususnya terkait Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Di mana 92% hoax tersebar di Medsos, dan Medsos sendiri dimiliki oleh 34% penduduk Indonesia.

Jurnalis Senior Lampung Post, Wiwik Hastuti mengajak generasi muda Indonesia untuk lebih kritis dalam mengkonsumsi berita. “Budaya cek, ricek dan kroscek harus dikedepankan, generasi muda harus meningkatkan literasi resmi,” ajaknya.

Dewan Penasehat Mapancas Heri Wardoyo mengatakan, hoax disebarkan orang jahat tapi pintar yang menyasar masyarakat yang kurang literasi. “Saat ini, hoax identik dengan strategi politik, yakni Firehose of Falsehood yang dilakukan dengan menyebarkan hoax secara masif, kontinyu dan berantai dari berbagai chanel atau sumber, sehingga mampu menenggelamkan fakta yang sebenarnya,” jelas Heri.

Menurutnya, cara menangkalnya dengan memancing keingintahuan masyarakat untuk mencari informasi terkait kebenaran yang ada, juga dengan memberikan informasi bernuansa humor atau jokes. 

Narasumber lainnya, Londriyano mengatakan, saat ini politik yang digunakan adalah intervensi kebohongan, di mana masyarakat banyak disuguhi dengan hoax yang dikhawatirkan dapat merubah penilaian masyarakat.

Kabid Disemninasi Informasi Dinas Kominfo Lampung Ganjar Jationo dalam kesempatan itu mengatakan, hoax adalah berita bohong atau disinformasi, di mana penyebar dan pembuat hoax tersebut dapat dikenakan Undang - Undang (UU) ITE.

Ganjar juga menjelaskan, ciri hoax diantaranya dapat mengakibatkan kecemasan, permusuhan dan kebencian, sumber berita tidak jelas dan substansi tidak berimbang. (ARMAN R)


 

Berita Terkait