Kamis, 04 Maret 2021 | 07:10:55 WIB

ESDM Andalkan B20 untuk Perbaiki Defisit Migas

Kamis, 21 Maret 2019 | 07:45 WIB
ESDM Andalkan B20 untuk Perbaiki Defisit Migas

Ilustrasi - Program biodiesel 20 persen (B20). (FOTO: MEDCOM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mengandalkan program biodiesel 20 persen (B20) untuk mengurangi defisit neraca migas. Pasalnya sampai dengan Februari 2019, neraca migas masih mencatat defisit meski secara keseluruhan terdapat surplus.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar usai rapat koordinasi mengenai neraca perdagangan bersama dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

"Kita bicara tentang usaha-usaha kita untuk memperbaiki neraca kita. Satu, dengan B20 jadi kita update tadi berapa impact dari B20 ini," kata Arcandra di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Maret 2019.

Bukan hanya itu, Kementerian ESDM juga melaporkan penyerapan Marine Fuel Oil (MFO) milik PT Pertamina (Persero) oleh sejumlah kontraktor. Penyerapan ini mengurangi ketergantungan impor.

"MFO yang selama ini MFO dari beberapa kontraktor itu diimpor, sekarang cukup dipenuhi oleh hasil pengilangan Pertamina," jelas dia.

Dirinya menambahkan, PT Vale Indonesia dan PT AKR Corporindo merupakan dua perusahaan yang sudah menyerap MFO milik Pertamina. Selain itu, ada kewajiban kontraktor asing membeli minyak dari Pertamina.

"Ada AKR impor MFO dan itu sekarang sudah insya allah bulan April ini, AKR sudah mulai membeli dari Pertamina. Sebentar lagi Vale juga akan membeli MFO dari Pertamina," pungkasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya merilis neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar USD329,5 juta pada Februari 2019. Surplus disebabkan ekspor yang tercatat sebesar USD12,53 miliar, sedangkan impornya sebesar USD12,2 miliar.‎

Sayangnya neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar USD464,1 juta selama Februari. Selama periode Januari-Februari 2019, defisit migas tercatat sebesar USD886 juta atau lebih rendah dari periode sama tahun lalu yang USD1,77 miliar.

MEDCOM

Berita Terkait