Sabtu, 31 Oktober 2020 | 20:59:32 WIB

Dana Desa Bisa Dipakai untuk Mencegah Stunting

Kamis, 1 Agustus 2019 | 10:55 WIB
Dana Desa Bisa Dipakai untuk Mencegah Stunting

Ilustrasi - Penggunaan dana desa untuk kesehatan. (FOTO: IST/LINDO)

SURABAYA, LINDO - Dana desa yang digelontorkan pemerintah pada 2019 bisa dipakai untuk menangani masalah stunting. Pencegahan stunting penting dilakukan untuk memperbaiki tumbuh kembang serta tingkat intelektual generasi penerus bangsa.
 
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menilai perlu adanya intervensi kolaborasi dengan berbagai lembaga terkait untuk mencegah stunting.
 
“Selain sosialisasi, pembahasan mencakup membangun komitmen dari masing-masing kepala daerah dan dinas terkait, termasuk dalam pemanfaatan APBD dan Dana Desa secara efektif dalam penanganan stunting di masing-masing daerah,” kata Samsul saat membuka acara Sosialisasi Inovasi Intervensi Aksi Cegah Stunting di kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Rabu, 31 Juli 2019.

Kesempatan itu juga digunakan Kementerian Desa PDTT untuk mereplikasi metode pencegahan stunting yang dilakukan Ditjen PDT di Kabupaten Pandeglang akan direplikasi di Jawa Timur. Metode di Pandeglang dianggap berhasil menurunkan angka stunting sebesar 8,4 persen hanya dalam kurun waktu enam bulan, yaitu sejak Mei 2018 sampai Februari 2019.
 
“Hasil kerja sama dalam pilot project Aksi Cegah Stunting di Pandeglang menjadi bekal sangat penting untuk melakukan upaya pencegahan stunting secara nyata dan strategis di berbagai daerah prioritas lainnya. Menyusul Kabupaten Pandeglang, ada 19 kabupaten di Jawa Timur yang akan menjadi lokasi prioritas pelaksanaan replikasi program ini berikutnya,” ujar Samsul.
 
Diharapkan melalui kesuksesan pencegahan stunting di Kabupaten Pandeglang, salah satu daerah tertinggal, kegiatan pencegahan stunting dapat digencarkan. Pencegahan stunting salah satunya bisa dilakukan dengan adanya komitmen pemerintah daerah terkait penggunaan APBD dan Dana Desa yang difokuskan untuk pencegahan stunting.
 
Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, menyampaikan, pemerintah Provinsi Jawa Timur akan melakukan langkah konkret dengan mengumpulkan instansi terkait dan menindaklanjutinya berdasarkan pengalaman di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang. Sehingga pencegahan dan penanganan stunting dapat cepat dan tepat sasaran di wilayah Jawa Timur.
 
“Orang tua juga harus memberikan atensi terkait stunting dan desa diberikan dorongan, serta penguatan Ditjen PDT diharapkan memberikan sinergi untuk program pencegahan stunting ini,” kata Emil.
 
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi jawa Timur Vitria Dewi, menambahkan, Jawa Timur merupakan provinsi besar, dengan penduduk mencapai 40 juta jiwa, banyak kabupaten tidak terbebas dari stunting.
 
Pemprov Jawa Timur sebenarnya telah melakukan pencegahan stunting. Di antaranya melakukan edukasi dengan pola kultur yang menarik, sehingga yang disampaikan kepada masyarakat bukan hanya sekedar teori tetapi juga dapat dilaksanakan dengan baik.
 
Hal itu penting dilakukan. Apalagi stunting adalah penyakit permanen dan irreversible atau tidak bisa diperbaiki jika anak sudah melewati usia dua tahun.
 
“Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak akibat malnutrisi kronik masih menjadi tantangan di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, di mana prevalensi balita stunting masih berada di angka yang tinggi, yaitu 26,2 persen,” ujar Tim Dokter Spesialis Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo yang dipimpin Damayanti R Sjarif yang ikut hadir pada acara tersebut.

MEDCOM

Berita Terkait