Senin, 24 Februari 2020 | 05:24:27 WIB

Warga Dusun Ngepek Gunungkidul Tidak Mengandalkan PLN

Rabu, 7 Agustus 2019 | 21:16 WIB
Warga Dusun Ngepek Gunungkidul Tidak Mengandalkan PLN

Salah satu panel surya yang terpasang di atap rumah warga Dusun Ngemplek, Desa Piyaman, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu, 7 Agustus 2019. (FOTO: MEDCOM/LINDO)

GUNUNG KIDUL, LINDO - Warga di Dusun Ngemplek, Desa Piyaman, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tak terpengaruh andai Perusahaan Listrik Negara (PLN) padam. Sebab panel surya sebagai sumber tenaga listrik hampir sebagian besar terpasang di setiap rumah warga.
 
Seorang warga Dusun Ngemplek, Ngadiyem mengatakan sudah tiga tahun keluarganya menggunakan energi yang ramah alam itu. Ia mengatakan ada puluhan warga yang menggunakan panel surya serupa.
 
"Awalnya dulu ada tetangga bernama Muhammad Ahab yang menyosialisasikan penggunaan (sumber) listrik tenaga surya," kata Ngadiyem di kediamannya, Rabu, 7 Agustus 2019.

Ngadiyem juga mengungkapkan penerangan tak hanya untuk rumah warga, namun juga di jalanan kampung. Pembuatan perangkat pendukung panel surya juga dibuat memanfaaatkan berbagai barang bekas. Misalnya, aki maupun kabel.
 
"Banyak dari bahan barang bekas pas susun salurannya. Ada aki dan penyangga juga pakai bahan daur ulang," jelas Ngadiyem.
 
Panel surya yang terpapar matahari sekitar 10 jam setiap hari itu telah terkoneksi dengan bohlam yang sudah diatur sedemikian rupa. Bohlam lampu di rumah maupun untuk penerangan jalan bisa menyala otomatis saat matahari tenggelam. Sebaliknya, lampu tetap padam selama matahari tampak.
 
"Di rumah lampunya diatur hidup jam enam sore, mati lampunya pas jam enam pagi," ungkap Ngadiyem.
 
Menurut perempuan 63 tahun ini keberadaan panel surya cukup berdampak positif untuk warga. Terlebih perawatannya tidak sulit. Menurut dia, perawatan perangkat panel surya itu cukup melihat ketinggian air aki dan mengecek kondisi instalasi listrik.
 
Suami Ngadiyem, Bagyo menjadi salah satu sosok pengurus di kampung. Bagyo terlibat dalam memberikan pengetahuan atau edukasi kepada warga soal pemasangan dan perangkat panel surya.
 
Bagyo biasa berbagi pengetahuan itu di sebuah pos ronda di kampung setempat. 'Cakruk Edukasi', begitu bunyi tulisan di pos ronda itu.
 
Muhammad Ahab menerangkan langkahnya menggerakkan warga memakai panel surya berlatar kejadian gempa bumi yang berpusat di Bantul 2006 silam. Saat itu, hampir semua rumah warga gelap tanpa penerangan saat malam tiba.
 
Ahab mengaku sempat melakukan uji coba merangkai panel surya di rumahnya yang ada di Ngemplak. Hingga kini, tak ada aliran listrik dari PLN di rumahnya.
 
Perkakas yang dibutuhkan untuk merangkai kebutuhan listrik dari panel surya yakni aki (baik motor maupun mobil), controller, serta inverter. "Kampung kami melawan stigma panel surya yang mahal," pungkas Ahab.

MEDCOM

Berita Terkait