Sabtu, 15 Agustus 2020 | 02:10:43 WIB

Polisi Anggap Hoaks Memperkeruh Unjuk Rasa Manokwari

Senin, 19 Agustus 2019 | 22:09 WIB
Polisi Anggap Hoaks Memperkeruh Unjuk Rasa Manokwari

Karopenmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (FOTO: MEDCOM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Mabes Polri melalui media sosialnya mengklarifikasi berita bohong terkait mahasiswa Papua yang meninggal di Surabaya. Hoaks tersebut memperkeruh keadaan di Manokwari dan unjuk rasa di Jayapura dan Sorong.
 
Informasi hoaks tentang seorang mahasiswa Papua di Surabaya meninggal akibat dipukul aparat TNI-Polri beredar beberapa waktu lalu. Warga Papua di foto tersebut ialah korban kecelakaan lalu lintas Jalan Trikora, tepatnya di depan TK Paut DOK V Atas Distrik Jayapura Utara, pada Selasa, 19 Februari 2019 pagi.
 
Sejumlah video provokatif juga banyak bereda dan memicu emosi warga Papua. Akibat hoaks tersebut, terjadi blokade di beberapa titik jalan dan Gedung DPRD Papua Barat dibakar.

"Mungkin ada yang membuat kata-kata kurang nyaman sehingga adik-adik kita di Papua merasa terusik dengan bahasa-bahasa seperti itu," ujar Jenderal Tito Karnavian usai mengunjungi korban penyerangan terduga teroris di Polsek Wonokromo, Senin, 19 Agustus 2019.
 
Tito menerangkan, kejadian di Surabaya dan Malang, sebenarnya sudah diselesaikan oleh pemerintah setempat. Namun, muncul informasi hoaks mengenai kata-kata yang kurang etis hingga munculnya gambar warga Papua yang meninggal. Hal ini memicu mobilisasi massa di Jayapura dan Manokwari.
 
"Hoaks foto adik kita yang meninggal dari Papua. Padahal tidak ada," katanya.
 
Penyebar berita hoaks akan dijerat dengan Pasal 45 UU No 19 tahun 2016 tentang UU ITE dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara dan denda maksimal Rp1 miliar. Tito harap masyarakat Papua lebih selektif dalam menerima informasi dan tidak mudah terpancing dengan informasi-informasi yang belum tentu benar faktanya.

Karopenmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengungkapkan Bandara Domine Eduard Osok, Sorong, Papua Barat sempat dirusak demonstran. Namun bandara tersebut dipastikan tetap beroperasi.
 
"Bandara Sorong memang ada sedikit mengalami kerusakan di beberapa titik," kata Dedi di Gedung Mabes Polri, Senin, 19 Agustus 2019.
 
Kendato demikian Dedi memastikan tidak ada kerusakan parah di fasilitas publik tersebut. Pihak bandara, kata dia, segera memperbaiki properti yang rusak.

Dia menjelaskan bandara tersebut hanya beroperasi sampai pukul 15.00 WIT setiap hari. Dia bilang tidak ada jadwal penerbangan setelah jam tiga sore.
 
"Bandara masih bisa dioperasionalkan oleh otoritas bandara baik untuk penerbangan pagi dan semoga sampai siangnya," ucap Dedi.
 
Selain itu jenderal bintang satu itu juga mengatakan beberapa kantor di Sorong mengalami kerusakan. Namun Dedi belum membeberkan jumlah gedung yang rusak dan nilai kerugiannya.
 
Selain itu, lanjut Dedi, perusakan juga terjadi di lembaga pemasyarakatan (lapas) Sorong. Kepolisian masih mendalami penyebab dan pelaku perusakan.
 
"Namun informasi sampai malam ini masih aman artinya lapas tidak terlalu terpengaruh," pungkas dia.

MEDCOM

Berita Terkait