Selasa, 02 Juni 2020 | 12:37:53 WIB

CV SJM Diduga Gaji Karyawan Dibawah UMK

Jum'at, 30 Agustus 2019 | 08:43 WIB
CV SJM Diduga Gaji Karyawan Dibawah UMK

Kantor CV Sumber Jaya Makmur (SJM) yang beralamat di Kelurahan Kampung Makassar, Kota Ternate, Malut. (FOTO: EMPY/LINDO)

TERNATE, LINDO - Perusahaan pendistribusian/agen penjualan beras bermerek bola mas milik CV Sumber Jaya Makmur (SJM) yang beralamat di Jalan Gamsungi, Kelurahan Kampung Makassar, Kota Ternate itu, diduga semena-mena terhadap karyawannya.

Pasalnya karyawan yang bekerja di SJM diduga hanya digaji dibawah upah minimum kota (UMK), yaitu Rp1.800.000/bulan, sedangkan UMK yang diterapkan oleh pemerintah Kota Ternate sebesar Rp 2.610.000/bulan.

Informasi yang dihimpun oleh media ini, perusahaan tersebut mejalankan bisnisnya tidak memenuhi keputusan Gubernur Propinsi Maluku Utara Nomor 330/KPTS/MU/2018/tertanggal 8 November 2018. Sedangkan UMK Ternate yang diterapkan sebesar Rp2.608.408/bulan.

"Seharusnya yang di bayar oleh pengusaha kepada karyawan/buruh sebesar Rp.2.608.408/bulan. Tapi faktanya, selama ini kami telah di bodohi oleh perusahaan CV SJM, yang membayar upah kami sebesar Rp.1.800.000/bulan," kata seorang mantan karyawan yang mengaku pernah bekerja di SJM selama bertahun-tahun dan tidak pernah diberikan pesangon oleh menajemen CV SJM.

Menurutnya, CV. SJM selama ini sudah membohongi pemerintah Kota Ternate yaitu perusahaan selama ini telah melaporkan upah karyawan kepada pihak BPJS sebesar Rp 2.610.000/bulan. Artinya, selama ini SJM telah membohongi pemerintah dengan membuat laporan palsu.

"Memang benar selama ini perusahaan SJM telah melaporkan upah karyawan kepada pihak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sebesar Rp.2.610.000, tapi fakta di lapangan kami hanya dibayar dengan gaji yang tidak memenuhi standar yaitu Rp.1.800.000/bulan," kata UP saat ditemuinya di kediamannya pada Kamis (29/8/2019) kemarin.

Dalam kesempatan itu, UP mengungkapkan bahwa selama menjalankan usahanya CV. SJM sengaja menerapkan sebuah aturan, yaitu karyawan yang terlambat masuk kerja dengan waktu yang sudah ditentukan akan dikenangkan pemotongan gaji sebesar Rp.1000/menit.

"Kami sangat menyayangkan peraturan perusahaan terkait pemotongan gaji sebesar Rp.1000/menit bagi karyawan yang masuk terlambat. Bahkan ada sebagian teman kami yang masih bekerja disitu, hingga kini tidak mendapatkan jaminan keselamatan kerja dari CV. SJM," tandasnya.

Dia mengaku pernah mencoba untuk meminta slip gajinya pada menajemen perusahaan, namun hal itu ditolak mentah-mentah, alasannya bahwa hal itu adalah rahasia perusahaan.

"Saya pernah minta slip gaji tapi tidak pernah dikasih, alasan mereka bahwa itu rahasia perusahaan," ucapnya.

Sementara itu, penanggungjawab SJM Joni Setiawan saat dikonfirmasi tidak mau memberikan komentar pada media ini. Ketika didesak alasan menutup infiramsi, Joni berdalih ia diperintah oleh bosnya agar tidak memberikan pernyataan pada publik.

Bahkan dalam sesi tanya jawab, Joni meminta agar wartawan mau membuka identitas narasumber yang membongkar aib perusahaannya.

"Kalau anda tidak memberikan identitas narasumber maka saya akan tuntut balik pada anda," kata Joni dengan nada ancaman pada media ini.

Sedangkan owner atau pemilik SJM Antoni Anggoro, saat di hubungi melalui telepon selulernya, tidak mau menanggapi ihwal tuduhan mantan karyawannya. Dia hanya menantang jika media ini memiliki bukti data yang akurat dipersilahkan untuk dipublikasi, kalau sifatnya hoax maka dia berjanji akan memperkarakan sang wartawan.

"Kalau berita itu datanya benar silahkan saja anda kasih naik, tapi kalu berita itu datanya salah atau hoaks maka saya akan tuntut balik pada saudara," ucapnya.

EMPY

Berita Terkait