Kamis, 09 Juli 2020 | 19:04:36 WIB

Konsep Pemindahan Ibu Kota Era Jokowi Dinilai Paling Matang

Jum'at, 30 Agustus 2019 | 15:01 WIB
Konsep Pemindahan Ibu Kota Era Jokowi Dinilai Paling Matang

Sekretaris Jenderal Partai NasDem Johnny G Plate. (FOTO: MEDCOM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Pemindahan ibu kota negara bukanlah wacana baru sebab sudah sering direncanakan oleh pemerintah sejak dulu. Para presiden sebelum Joko Widodo (Jokowi) pun ingin memindahkan Ibu Kota dari Jakarta
 
Sejak 1957, Presiden pertama RI Soekarno atau yang akrab disapa Bung Karno sudah berencana memindahkan ibu kota ke Palangkaraya. Demikian juga Presiden kedua RI Soeharto juga sudah rencanakan hal itu di tahun 80-an untuk dipindahkan ke Jonggol.
 
"Pak SBY juga telah mencoba melihat potensi apakah dipindahkan ke Jonggol atau Palangkaraya," kata Sekjen Partai NasDem Johnny G Plate di Jakarta Barat, Kamis, 29 Agustus 2019.

Anggota Komisi XI DPR ini mengatakan pemindahan Ibu Kota selama ini selalu menjadi wacana yang tidak pernah terlaksanakan. Nama-nama Ibu Kota yang diajukan sebagai pengganti pun selalu berubah tanpa adanya pergerakan.
 
Namun, saat pemerintahan Jokowi, kata Johnny, pemindahan Ibu Kota langsung direalisasikan. Jokowi dinilai matang dalam merancang rencana pemindahan Ibu Kota negara.
 
"Nah saat Pak Joko Widodo, dia langsung mengambil langkah-langkah teknis dan persiapan dokumen secara teknokratis yang saat ini kita sampai pada awal dan proses pemindahan ibu kota secara sungguh-sungguh dan serius," ujar Johnny.
 
Johnny mendukung pemindahan pusat negara dan pemerintahan ke Kalimantan Timur. Dia menilai rencana itu sangat tepat untuk mengurangi beban Jakarta.
 
Hal ini dilkarenakan Jakarta tidak didesain sebagai Ibu Kota dalam sejarah. Jakarta sejatinya merupakan daerah yang cocok menjadi pusat perdagangan ketimbang Ibu Kota.
 
"Karena memang didasari DKI Jakarta ini tidak didesain oleh VOC dulu sebagai Ibu Kota negara. Jakarta atau Batavia saat itu didesain sebagai kota dagang sebagai pelabuhan utama," tutur Johnny.
 
Perkembangan di Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi pun membuat migrasi penduduk Indonesia semakin besar setiap tahunnya. Jika tidak dipindahkan, kata Johnny, Jakarta tidak akan bisa menampung lagi kepadatan penduduk.
 
"Ternyata DKI Jakarta berkembang begitu pesat sebagai kota bisnis, kota dagang, kota jasa dan ibu kota yang mengakibatkan migrasi yang begitu besar ke Jakarta yang mengakibatkan daya dukung Jakarta sudah tidak cukup kuat lagi terhadap kebutuhan penduduknya selalu bertumbuh," tutur Johnny.
 
Dia juga menilai perkembangan negara tidak akan bisa pesat jika Ibu Kota tetap di Jakarta. Pasalnya, pemerintah akan terus terbebani dengan beban ekonomi dan politik dalam satu daerah.
 
Untuk itu dia berharap pemindahan Ibu Kota bukanlah wacana belaka. Menurutnya, pemindahan Ibu Kota ini bisa membuat Indonesia lebih cepat berkembang ke depannya.
 
"Dan saya kira pada saat pemerintah mengurangi beban Jakarta dan menyiapkan Ibu Kota baru di luar Jakarta yang menurut kajiannya secara rasional demi manfaat pembangunan negara dengan letak di tengah Indonesia itu satu hal positif yang harus kita terima dan berikan dukungan itu," ucap Johnny.

MEDCOM

Berita Terkait