Jumat, 28 Februari 2020 | 12:55:16 WIB

Kerusuhan Papua dalam Kacamata Hukum dan Nonhukum

Selasa, 3 September 2019 | 16:27 WIB
Kerusuhan Papua dalam Kacamata Hukum dan Nonhukum

Anggota BPIP Mahfud MD dalam diskusi di kantornya, Jakarta, Selasa, 3 September 2019. (FOTO: MEDCOM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Mahfud MD menyebutkan kerusuhan di Papua bisa dilihat dari dua sisi, hukum dan nonhukum. Hal itu tergantung pengertian Pancasila dalam menyikapi kerusuhan.
 
Bila dilihat dari pengertian Pancasila sebagai dasar negara, kerusuhan di Papua masuk dalam ranah hukum. Perkara ini bersumber dari aksi rasialisme di Surabaya dan Malang, Jawa Timur, dari sekelompok kecil orang.
 
Aksi di Jawa Timur menimbulkan kemarahan warga di Papua. Kasus ini semakin liar hingga berujung munculnya separatisme.

"Kalau teriak ingin merdeka, ingin referendum, itu sudah hukum. Hukum dalam arti kelangsungan negara," terang Mahfud di Kantor BPIP, Jakarta, Selasa, 3 September 2019.
 
Guru Besar Hukum Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, itu menilai polisi perlu memisahkan antara pelaku separatis dan pelaku kriminalitas. Pedemo dan pelaku ujaran kebencian masuk kriminal biasa.
 
"Tapi separatis adalah yang punya ide dan bergerak untuk meminta kemerdekaan dan referendum" tambah dia.
 
Sementara itu, dalam konteks nonhukum, Pancasila digunakan dengan pendekatan persuasif. Ideologi ini harus dilihat sebagai pedoman perilaku, sopan santun, pandangan hidup, pemersatu, dan sebagainya.
 
"Itulah yang disebut pemanfaatan hukum. Diplomasi, mengatur kembali hubungan kejiwaan, persaudaraan antara orang Papua dan non-Papua. Tidak saling mengancam antara aparat kemanan dan pihak Papua yang ingin merdeka," contoh dia.
 
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu berpendapat pendekatan hukum dan nonhukum sama pentingnya. Aktor separatis yang berjumlah sedikit sebaiknya ditangani secara hukum. Sementara itu, masyarakat Papua yang tak tahu menahu harus dilindungi sepenuhnya.
 
"Karena pada umumnya orang Papua itu tidak ikut dalam gerakan separatisnya. Banyak berita tentang orang gunung yang dikerahkan untuk demo. Setelah pulang mereka takut dibunuh oleh orang yang menggerakkan karena mereka tak tahu menahu," ujar dia.

MEDCOM

Berita Terkait