Minggu, 05 Juli 2020 | 13:09:29 WIB

Eksploitasi di Kapal Taiwan, Pelaut WNI Selamatkan Diri

Jum'at, 6 September 2019 | 08:00 WIB
Eksploitasi di Kapal Taiwan, Pelaut WNI Selamatkan Diri

Ilustrasi - Kapal Taiwan yang diamankan petugas. (FOTO: TEMPO/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Penipuan pelaut atau nelayan Indonesia oleh pihak asing masih marak. Salah satunya yang dialami warga negara Indonesia berinisial 'SP' yang bekerja sebagai kapten darikapal berbendera Taiwan.
 
Setelah satu tahun bekerja, SP dan lima WNI lainnya merasa ada yang tidak beres dengan kapal tersebut. Ponsel SP juga sempat disita sehingga ia tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga di Tanah Air.
 
“SP berhasil kabur ketika kapal sandar di Penang dan ditahan oleh otoritas Malaysia. Dari situ ia membeli kartu selular Malaysia dan menginstal aplikasi Safe Travel,” kata pelaksana harian (Plh) Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI Judha Nugraha, seperti dilansir oleh Medcom.id, di Jakarta, Kamis 5 September 2019.

Ketika ia membuka aplikasi Safe Travel, lanjutnya, SP langsung memencet tombol bantuan dan terhubung ke KJRI Penang. Kemudian, tim KJRI Penang langsung mendatangi lokasi ditahannya kapal dan memeriksa isi kapal.
 
“Awalnya ia menghubungi istrinya ketika dia berhasil membeli simcard Malaysia. Lalu istrinya menghubungi Pusat Sumber Daya Buruh Migran (PSD BM), Infest Yogyakarta,” ungkap Judha.
 
Sebelum mendatangi lokasi kapal, KJRI Penang melaporkan kasus SP pada kepolisian maritim Malaysia. Kepolisian Maritim Malaysia bersama dengan otoritas lain kembali menggeledah kapal dan menginterogasi satu per satu orang-orang yang berada di atas kapal.
 
“Otoritas Malaysia meminta orang Taiwan untuk menyerahkan orang-orang Indonesia yang berada di atas kapal pada KJRI Penang,” ujarnya lagi.
 
SP bersama dengan orang-orang Indonesia lain akhirnya dibawa ke KJRI Penang. Selama beberapa hari SP dan teman-temannya tinggal di KJRI Penang. Dibantu oleh KJRI Penang, negosiasi dengan agensi perusahaan mengenai gaji dan biaya pemulangan dilaksanakan.
 
Awalnya, SP menerima tawaran kerja sebagai kapten kapal perusahaan Taiwan dari adik kelasnya sewaktu sekolah di pelayaran. SP menerima pekerjaan sebagai kapten kapal kargo dengan gaji USD2.500 per bulan.
 
Pada 25 Juni 2019, SP berangkat ke Jakarta untuk melakukan medical check up. Di Jakarta, ia mendapatkan Letter of Guarante dan langsung diberangkatkan ke Singapura pada 27 Juni 2019.
 
Hingga saat ini, jumlah pekerja migran di Taiwan sekitar 710 ribu orang, 270.000 diantaranya berasal dari Indonesia. Jumlah ini terbanyak dibanding negara-negara lain.
 
Keberhasilan program ini merupakan tonggak sejarah kerja sama di bidang ketenagakerjaan antara Taiwan dan Indonesia.

MEDCOM

Berita Terkait