Senin, 21 September 2020 | 00:28:56 WIB

Menurut Pakar Virus drh. Indro Cahyono, Covid-19 Mudah Nempel Tapi Tidak Menimbulkan Kerusakan

Senin, 30 Maret 2020 | 19:55 WIB
Menurut Pakar Virus drh. Indro Cahyono, Covid-19 Mudah Nempel Tapi Tidak Menimbulkan Kerusakan

Virologis drh. Indro Cahyono. (Foto: Triunnews/Lindo)

JAKARTA, LINDO - Hingga Minggu (22/03/2020), menurut Juru Bicara Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto, sudah ada 514 pasien positif virus corona di Indonesia dengan sebaran di beberapa wilayah, dengan turunan 29 orang sembuh dan 48 meninggal. Ditambah, data tersebut merupakan data sementara.

Namun, pakar virus atau virologis drh. Indro Cahyono masih memandang optimisitis akan pulihnya Indonesia terhadap pandemi covid-19 ini.

Kita harus meyakinkan orang bahwa virus corona ini tidak ada hubungannya sama kematian. Belum tentu orang yang kena corona pasti mati, karena kenyataannya yang mati dalam skala dunia lebih sedikit, itu pun juga ada yang dikategorikan sebagai high risk group," kata Indro saat dihubungi Tribunnews, Minggu (22/3/2020).

Dirinya pun meyakini bahwa ketakutan yang ditimbulkan oleh covid-19 terhadap manusia sudah tidak berdasar, hingga kemudian berdampak pada kepanikan massal di beberapa wilayah.

"Kita harus mulai menyingkirkan bahwa corona bukan kematian karena begitu kita menaruh handphone di bawah, lalu kemudian kita keluar rumah, kita baru sadar orang-orang tidak ada yang mati bergelimpangan di luar, pada santai semua," lanjutnya.

Virus corona, dikatakan Indro, akan mati sendiri jika manusia yang dijangkiti mengisolasi atau menahan diri, ditambah mengonsumsi suplemen yang kemudian menambah antibodi untuk memerangi virus tersebut.

Lantas, bagaimana penjelasan sang ahli virus dalam menjelaskan covid-19 yang menggegerkan dunia ini, bagaimana sejarahnya hingga menyikapinya? Berikut petikan wawancara Tribunnews dengan drh. Mohammad Indro Cahyono:

Menurut Anda virus corona virus yang seperti apa?

Coronavirus itu jenisnya banyak banget, dan itu sudah ada dari zaman dulu, sebelum masehi udah ada. Corona sudah ada. Nah yang ada sekarang cuma salah satu dari sekian puluh jenis virus corona, cuma yang sekarang yang covid-19, dia lebih gampang menempel dan infeksi manusia.

Tapi meskipun kelebihannya dia gampang menempel dan menyerang manusia, dia tidak akan menimbulkan kerusakan yang fatal di saluran pernapasan, kecuali kalau orangnya sudah sakit duluan.

Apa yang sebenarnya terjadi kepada orang sehat maupun yang sudah ada penyakit jika terjangkit covid-19?

Kalau kita orangnya biasa, normal, enggak punya komplikasi penyakit, TBC itu kita akan kena juga, sakit tetapi kita tidak akan meninggal begitu. Jadi kita akan sakit pertama kali kan yang sering dibilangi itu pertama bersin dulu, terus pilek, mulai gatal-gatal mau menelan susah, akhirnya demam sudah sampai lima-enam hari.

Sesudah itu nanti berikutnya antibodinya keluar di hari ketujuh. Nah kalau sudah keluar sampai puncaknya 14 hari tuh, antibodinya sedikit-sedikit dulu, dikeluarkan paling banyak itu di 14 hari sehingga ketika 14 hari antibodinya semakin banyak virus dimakan semua dan akhirnya sembuh.

Makanya seperti pasien nomor 1,2, dan 3 di Depok itu 29 februari dinyatakan positif terus dirawat di rumah sakit kan, kemudian 16 hari kemudian mereka balik lagi ke rumah dan jadi negatif.

Kalau kita melihat status positifnya, untuk manusia normal, itu hari pertama itu kita positif, kedua ketiga keempat kelima keenam ketujuh kita masih positif. Tetapi sesudah hari kesepuh sampai ke-14 dan lebih dari situ bisa kebaca negatif, karena virusnya udah dihabisi.

Anda menyebut sempat ke Depok saat kasus pertama kali covid-19, apa yang membuat Anda memberanikan diri?

Sekarang saya balik pertanyaannya, bukannya saya memberanikan diri, seolah-olah cuma saya yang begitu.
Justru kenapa orang-orang pada takut? Kalau kita mengasosiasikan virus corona sama kematian, padahal angka kesembuhannya lebih tinggi, yang mati tiga persen. Kenapa bisa yang mati tiga persen, karena ya dia emang sudah sakit duluan.

Kalau misalnya saya sakit dan punya kelainan paru-paru dan kelainan pernapasan, saya juga akan berpikir lagi buat datang ke situ (Depok). Nah, kalau saya sehat, saya tidak punya masalah karena saya yakin nanti minggu depan saya sehat lagi.

Apa yang Anda alami ketika ke Depok usai pengumuman kasus positif pertama?

Saya yakin saya sudah pernah kena sebelumnya. Maka sepulang dari Depok, saya enggak sakit. Persis seperti dikasih vaksin cacar. Kalau misalnya kita mau antibodi buat badan kan lewat dua cara nih. Yang pertama vaksin kan kita pernah divaksin cacar

Kalau kita sudah pernah divaksin cacar, maka kita punya ada sel memori buat mengingat virus cacarnya, makanya kalau pas ada wabah cacar, virusnya masuk, kita enggak kena, orang kita sudah bisa mengeluarkan antibodinya, lebih cepat begitu.

Apakah itu berarti cacar mirip dengan covid-19 ini?

Persis sama, cuma sekarang perbedaannya adalah memasukkan virus ke dalam tubuh lewat vaksin sama lewat virus wabah, itu berbeda.Kalau misalnya vaksin kan virusnya sudah mati, makanya begitu dimasukkan ke badan kita, kita tidak sakit, paling ya panas-panas sehari-dua hari.

Tapi kalau misalnya virus wabah, kalau masuk ke dalam badan kita dan kalau masuknya kebanyakan, maka kita akan sakit, tetapi kesakitannya hanya berlangsung selama satu minggu. Sesudah itu ya sama-sama mengeluarkan antibodi juga, divaksin juga minggu depan keluar antibodinya.

Kena virus wabah, minggu depan juga keluar anrtibodinya. Perbedaannya kalau divaksin kita tidak sakit, kalau dari virus wabah kita sakit demam dulu.

Dari penjelasan Anda, apakah covid-19 ini bisa membuat orang meninggal?

Semisal ada dua orang, yang satu sehat enggak punya komplikasi, satunya lagi punya TBC sehabis itu sama diabetes. Pas kita datang ke tempat yang sama kita dapat virus yang sama. Kalau virusnya masuk ke tempat orang sehat, orang itu sakit tetapi minggu depan akan sembuh. Kalau masuk ke orang yang sudah punya penyakit duluan, nah itu orang sakitnya tambah parah.

Sebagian besar yang meninggal itu ada di grup itu, namanya kalau saya bilang high risk group. Grup itu isinya ya orang-orang yang sudah tua, karena mereka mengeluarkan antibodinya tidak seperti usia-usia muda. Kedua, orang-orang yang punya penyakit komplikasi. Ketiga, yang punya gangguan pernapasan.

Yang harus diperhatikan karena sekarang kematian lebih banyak terjadi di orang-orang dengan risiko tinggi ini, yang 3 persen, karena kan datanya membuktikan 97 persennya hidup. Yang 3 persen ini kan harus dilindungi.

Menurut Anda, bagaimana cara melindungi yang high risk group itu?

Yang harus diperhatikan karena sekarang kematian lebih banyak terjadi di orang-orang dengan risiko tinggi ini, yang 3 persen, karena kan datanya membuktikan 97 persennya hidup. Yang 3 persen ini kan harus dilindungi.

Menurut Anda, bagaimana cara melindungi yang high risk group itu?

Kalau kita tahu lagi ada wabah ya jangan keluar rumah, benar katanya Pak Presiden. Di rumah dulu saja dua minggu, nanti kalau wabahnya sudah tidak ada lagi boleh keluar lagi, biar tidak ada yang terjangkit virus.

Kemudian, kalau misalnya orang dengan risiko tinggi batasnya kerusakan adalah pada saat mulai ada gangguan napas atau sesak. Jadi kalau kita masih demam itu tidak apa-apa.

Begitu kita sudah mulai merasa tidak bisa napas atau sesak, langsung ke rumah sakit tidak usah menunggu, karena kita belum punya alat untuk melegakan pernapasan. Rumah sakit yang punya, dan kita harus menyelamatkan orang yang risikonya tinggi.

Tribunnews/Ad

Berita Terkait