Jumat, 04 Desember 2020 | 21:49:40 WIB

Polisi Tetapkan 21 Tersangka Pemilik Dan Direksi Bank BOII

Jum'at, 29 Mei 2020 | 13:14 WIB
Polisi Tetapkan 21 Tersangka Pemilik Dan Direksi Bank BOII

(FOTO : IST/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Persekongkolan jahat diduga telah dilakukan pemilik, direksi, pegawai atau bankir-bankir di Bank Swadesi yang kini berubah nama menjadi PT Bank Of India Indonesia (BOII). Akibat perbuatan yang diduga merugikan saksi pelapor/korban Rita Kishore Kumar Pridhnani itu, sebanyak 20 orang, mulai dari mantan direktur utama, direktur, komisaris dan eks pejabat kredit PT BOII sebanyak 21 orang telah ditetapkan jadi tersangka oleh Dit Tipideksus Bareskrim Mabes Polri.

Hal itu diketahui dari Pemberitahuan Surat Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) Badan Reserse Kriminal Polri Dit Tipideksus tanggal 15 Mei 2020 yang ditandatangani Kasubdit Perbankan pada Direktur Tipideksus, Kombes Helfi Assegaf SH SIK, seperti yang dilansir Lindo dari Suara Karya.

Informasi yang diperoleh di Badan Reserse Kriminal Polri, Kamis (28/5/20), menyebutkan Laporan Polisi Nomor LP/233/VI/2011/Bali/Dit reskrim tertanggal 25 Juni 2011 telah “melahirkan” 21 tersangka. Bahkan berkas perkara  atas nama tersangka Ningsih Suciati sudah dinyatakan P21 dan sudah dilakukan tahap II pada tanggal 30 April 2020.

Itu artinya tinggal menunggu penunjukan majelis hakim yang menangani kemudian dibuat penetapan jadwal persidangan di pengadilan negeri tempat kejadian perkara atau di locus delicti kasus perbankan tersebut.

Helfi Assegaf SH SIK yang berusaha dikonfirmasi akan nama-nama banker yang terlibat dalam kasus lelang agunan pinjaman tersebut belum berhasil. Namun informasi yang diperoleh, menyebutkan nama-nama mereka secara jelas. Hal itu juga sesuai dengan Surat Ketetapan tersangka No S. Tap/ 32/V/ Res/ 2.2/2020/Dit Tipideksus tanggal 11 Mei 2020 perihal pemberitahuan penetapan tersangka.

Mereka masing-masing atas nama 1. Prima Sura Pandu Dwipanata (mantan AO/Direktur Kepatuhan Bank Swadesi/BOII), 2. Sri Budiarti (mantan Ka Legal), 3. Ny Lisawati (mantan Dirut), 4. Prakas R  Chugani (mantan komisaris/pemilik Bank Swadesi), 5. Ny Olga Istandia (mantan komisaris), 6. Ny Aminah (mantan Ka unit kredit), 7.Wikan Aryono (mantan Direktur Operasional), 8.PK Bhiswas (mantan Wadirut), 9. LG Rompas (mantan komisaris), 10. Gopal Krisna (mantan Kaunit Kredit Korporasi), 11. Anil Bala (mantan Wadirut), 12. Rakesh Sinha (mantan Dirut), 13. Lim Wardiman (mantan Direktur), 14. Banavar Anantharamajah (mantan Komut), 15. Muhamad Yunan HE ( mantan AO), 16. Gatot Setiabudi (mantan PJS pimpinan KPO), 17. Sunardi (mantan Admin Kredit), 18.  Sis Douantoro (mantan Analis Kredit), 19. Siswantoro (mantan Kagrup Marketing), 20. Feri Koswara (mantan pimpinan KPO atau direktur operasional Bank Swadesi/BOII) dan 21. Ningsih Suciati SE.

Para tersangka tersebut ketika berusaha dimintai tanggapan akan status hukum mereka menjadi tersangka terkait kasus perbankan, belum berhasil.

Awalnya, Laporan Polisi Nomor LP/233/VI/2011/Bali/Dit Reskrim tanggal 25 Juni 2011 ini, ditangani penyidik Polda Bali. Namun selanjutnya diambilalih penanganannya oleh Mabes Polri sebagaimana dalam Surat Kapolda Bali Nomor: B/6027/VII/Res.2.5./2018/Ditreskrimsus tanggal 20 Juli 2018 perihal pelimpahan Laporan Polisi Nomor: LP/233/VI/2011/Bali/Dit.Reskrim tanggal 25 Juni 2011.

Kasus yang cukup menggegerkan dunia perbankan ini, terjadi saat PT Ratu Kharisma milik Rita Kishore Kumar Pridhnani mengajukan kredit ke Bank Swadesi yang sekarang berganti nama Bank Of India Indonesia (BOII) sebesar Rp 6 miliar dan ditambah lagi Rp 4,5 miliar dengan agunan tujuh aset vila di Bali senilai Rp 12 miliar.

Namun kredit itu mengalami kemacetan akibat PT Ratu Kharisma mengalami kerugian saat bertransaksi dengan agen perjalanan dari Korea Selatan hingga minta tambah kredit Rp 3,5 miliar. Permohonan PT Ratu Kharisma menambah kredit Rp 3,5 miliar ditolak kreditur kendati apraisal asset vila sesungguhnya senilai Rp 15 miliar.

Persoalan timbul, ketika BOII memaksakan pelaksanaan lelang  objek jaminan vila. Bahkan nilai lelangnya sebesar Rp 6,3 miliar jauh di bawah harga hak tanggungan apalagi harga pasar. Akibatnya, hutang Rita Kishore terus ditagih dan ditagih sampai akhirnya berlanjut ke laporan ke Polda Bali. (ARMAN R/SUARAKARYA)

Berita Terkait