Sabtu, 26 September 2020 | 15:18:17 WIB

Kuasa Hukum Kebot Minta Kliennya Divonis Ringan

Senin, 8 Juni 2020 | 14:52 WIB
Kuasa Hukum Kebot Minta Kliennya Divonis Ringan

(FOTO : PROGRESNEWS.INFO/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Roberto Sihotang, SH selaku Kuasa hukum Risky Ardiansyah alias Kebot menegaskan, kliennya sama sekali tidak bermaksud untuk ikut terlibat dalam rencana membuat bom ketapel yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Samsul Huda dan kawan-kawannya.

"Dalam fakta persidangan yang berlangsung secara online tersebut dijelaskan oleh saksi Polisi yang menangkap terdakwa serta saksi yang memesan gagang ketapel kepada terdakwa yaitu Samsul Huda, bahwa terdakwa Risky Ardiansyah alias Kebot memang sama sekali tidak mengetahui untuk apa maksud dan tujuan pemesanan gagang ketapel sebanyak 200 (dua ratus) buah oleh pemesan bernama Samsul Huda kepada Risky," kata Roberto Sihotang, usai persidangan mendengar fakta persidangan dari sejumlah saksi pada 30 Maret 2020 lalu.

Menurutnya, keterangan saksi Polisi ini juga dipertegas lagi dengan keterangan saksi dari Samsul Huda yang menyampaikan, bahwa ia sama sekali tidak menyebutkan kegunaan pemesanan 200 buah gagang ketapel tersebut kepada terdakwa Risky Ardiansyah. Ketika Risky bertanya apa kegunaan ketapel tersebut, Samsul Huda menjawab, “ada lah” tanpa tanpa menjelaskan lebih lanjut apa kegunaan gagang ketapel sebanyak itu.

Dalam persidangan juga kata Roberto, terungkat bahwa gagang ketapel tersebut dipesan seharga Rp 8.000 (delapan ribu rupiah) per gagang ketapel. Total gagang ketapel yang dipesan oleh Samsul Huda kepada Risky adalah sebanyak 200 buah.

"Akan tetapi, dalam waktu pemesanan yang cukup pendek, yaitu hanya selama 1-2 hari, gagang ketapel tersebut harus ada, sementara Risky hanya dapat memenuhi sebanyak 50 (lima puluh) gagang ketapel," ungkapnya.

Setelah diperiksa dengan seksama hasil pesanan ketapel tersebut oleh Samsul Huda, ternyata Samsul Huda hanya setuju sebanyak 22 (dua puluh dua) gagang ketapel, sehingga total yang dibayar oleh Samsul Huda kepada Risky setelah dilakukan negoisasi adalah sebesar Rp 160.000 (seratus enam puluh ribu rupiah).

Selain itu, ternyata gagang ketapel tersebut akan digunakan oleh terdakwa Samsul Huda dan kawan-kawannya yang telah mempersiapkan hal ini jauh-jauh hari yaitu Basit, Pepep, Firdaus, Edawati, Hilda Basalamah dan lain sebagainya, sebagai bahan untuk melawan petugas pada saat akan ada demo menjelang pelantikan Presiden Joko Widodo.

Mereka telah tergabung dalam Group Whatsapp “Fisabililah’. Terdakwa Risky baru dimasukan oleh terdakwa Samsul Huda tiga hari menjelang mereka ditangkap oleh aparat kepolisian dari Polda Metro Jaya Subdit 3 Resmob.

Roberto menambahkan, adapun gagang ketapel tersebut digunakan untuk pelontar bahan peledak yang telah didesain sedemikian rupa dalam bentuk kelereng yang berukuran cukup besar (sebesar bola pimpong, kurang dari ukuran bola tenis).

"Bahan peledak yang dipersiapkan tersebut, sama sekali tidak diketahui oleh terdakwa Risky yang mana bahan peledak tersebut diduga dibuat dan didesain oleh terdakwa Pepep, samsul Huda dan kawan-kawannya," jelas Roberto.

Dari fakta-fakta persidangan yang terungkap, Roberto yakin dan percaya bahwa kliennya Risky Ardiansyah sama sekali tidak bermaksud untuk ikut terlibat dalam hal rencana membuat bom ketapel yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Samsul Huda dan kawan-kawannya.

Namun tambahnya, kliennya menyadari bahwa perbuatannya tersebut, apabila memang terjadi dan dilakukan pada saat demo menjelang pelantikan Presiden Joko Widodo, tentu akan memakan korban yang lebih besar lagi,

Adapun tuntutan yang telah dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum pada Persidangan sebelumnya, yaitu menuntut terdakwa Risky Ardiansyah dengan hukuman selama 10 (sepuluh) bulan penjara dikurangi masa tahanan. Sejak terdakwa ditangkap, sampai dengan saat ini, Risky Ardiansyah telah menjalani masa tahanan yaitu kurang lebih selama 7 (tujuh) bulan.

Dengan demikian, diungkap Roberto, pihaknya berharap agar majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur (Jaktim) yang berwenang memeriksa dan mengadili perkara kliennya dapat menjatuhkan hukuman yang lebih ringan lagi sehingga kliennya tidak lama lagi akan bisa menghirup udara bebas.

Roberto dan tim kuasa hukum Risky Ardiansyah alias Kebot, yakin dan percaya, ini adalah upaya hukum terbaik mereka terhadap Risky Ardiansyah.

Dengan berbagai pertimbangan yang ada, apapun keputusan yang diberikan oleh majelis hakim adalah yang terbaik bagi klien mereka Risky Ardiansyah. (ARMAN R)

Berita Terkait