Kamis, 29 Oktober 2020 | 17:00:17 WIB

Hippmadel Tuduh Data LPJ Malik Gama Hampir Semua Fiktif

Kamis, 24 September 2020 | 21:55 WIB
Hippmadel Tuduh Data LPJ Malik Gama Hampir Semua Fiktif

Ketua Hippmadel Arnol Faici bersama Katua Aliansi Masyarakat Desa Lata-lata Hasan Maici saat bertemu Kasi Penum Kejati Malut Ricard Sinaga di kantor Kejati Malut, Kamis (24/09/2020). (Foto: Aldy/Lindo)

HALSEL, LINDO - Ketua Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Desa Lata-lata (Hippmadel), Arnol Faici mengatakan bahwa hasil temuan data laporan pertanggung jawaban (LPJ) desa Lata-lata, kecamatan Kasiruta Barat, kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), yang disusun oleh kepala desa (Kades) Lata-lata Abdul Malik Gama, pada tahun anggaran 2018 dan tahun anggaran 2019 senilai miliaran rupiah, hampir kesemuanya  adalah fiktif belaka alias pemalsuan dokumen negara.

 

"Saya sudah teliti seluruh isi dokumen itu, dan hasil yang saya lihat hampir semua data dokumen yang disusun Abdul Malik Gama itu adalah fiktif semua. Banyak saksi-saksi dari warga mengatakan bahwa mereka tidak pernah menerima uang yang sumbernya dari dana desa maupun alokasi dana desa yang diberikan kades Malik Gama. Mereka siap jadi saksi ketika diminta penyidik jaksa hadir memberikan keterangan soal bukti-bukti itu. Karena mereka tidak pernah tanda tangan dan tidak menerima uang dari kades lata-lata yang tertuang dalam kwitansi LPJnya itu," ujarnya.

 

Arnol menjelaskan bahwa penemuan dokumen itu adalah buah hasil kerjanya yang selama ini ia cari. Namun tiba-tba ia dikejutkan dengan pemberian oleh salah satu rekannya yang namanya dirahasiakan. Dan menurutnya, dokumen itu selama ini kades Malik Gama dan DPMD Halsel selalu sembunyikan.

 

"Setahu saya dokumen LPJ yang dibuat kades Malik Gama itu selalu tertutup dan selalu disembunyikan pada warga Lata-lata, termasuk pada kami di mahasiswa. Data sampai lolos pada kami berarti ini sudah saatnya kades Malik Gama harus tamat riwayatnya. Dia sudah tidak bisa berkelak lagi dalam LPJnya dia, pokoknya kasus ini akan kami sikat sampe ke akar-akarnya," tegas Arnol.

 

Arnol mengakui bahwa seluruh kwitansi yang ada dalam LPJ tahap satu, tahap dua dan tahap tiga di tahun 2018 yang ditanda tangani oleh warga dan mantan kaur pemerintah desa Lata-lata adalah kebohongan semua. Sedangkan kwitansi yang ditanda tangani warga itu kesemuanya adalah pemalsuan yang dibuat kades Malik Gama.

 

"Dari tahap satu, tahap dua, dan tahap ketiga di tahun 2018 tidak ada warga yang mengetahui isi tanda tangan mereka. Termasuk tanda tangan pengambilan uang dari tahap kesatu, tahap kedua dan tahap ketiga ditahun 2019, warga mengaku kaget karena nama mereka dan tanda tangan warga dicantumkan oleh kades Lata-lata Malik Gama. Ini yang namanya pemalsuan dokumen, makanya warga sudah siap gugat Malik Gama dalam laporan nanti di Kejaksaan Negeri Labuha, Halsel," tandasnya.

 

Dokumen ini, kata Arnol pihaknya akan membawa ke meja penyidik Kejaksaan Tinggi Malut dan Kejaksaan Negeri Labuha untuk di jadikan barang bukti tambahan lalu diproses hukum.

 

"Kami sudah dapat bukti petunjuk penyilidikan tambahan untuk disidik oleh penyidik kejaksaan. Dan kami yakin bahwa data-data itu bisa membuat kemudahan penyidik dalam mengungkap kasus ini. Mudah-mudahan hal itu bisa membuka seluruh keburukan kades Malik Gama yang selama ini ia tutupi," ujar Arnol.

 

ALDY M

Berita Terkait