Rabu, 27 Mei 2020 | 22:59:15 WIB

Pemerintah Perlu Prioritaskan Insentif Kendaraan Umum Listrik

Selasa, 3 September 2019 | 09:57 WIB
  • Ilustrasi - Mobil listrik. (FOTO: AFP/MEDCOM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Pemerintah diminta serius membantu pengembangan kendaraan bertenaga listrik. Salah satu caranya dengan memprioritaskan insentif pada kendaraan umum tenaga listrik.
 
“Jika pemerintah benar-benar serius, insentif untuk transportasi umum harus lebih diprioritaskan ketimbang insentif pengembangan untuk kendaraan pribadi listrik,” kata Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno di Jakarta, Senin, 2 September 2019.
 
Djoko mengapresiasi terbitnya Peraturan Presiden (Perpes) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan. Menurut Djoko, Perpres tersebut cukup meyakinkan untuk menekan polusi sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Namun, kata dia, hal itu perlu diimbangi dengan sinergitas kebijakan antar kementerian dan lembaga terkait. Djoko menilai sinergitas itu belum maksimal selama ini.
 
“Kurangnya sinergitas menyebabkan permasalahan di hilir seperti kemacetan, polusi udara, dan pemborosan energi,” ujar Djoko.
 
Dia mengatakan, Perpres tersebut akan tepat sasaran jika pemerintah memfokuskan insentifnya pada transportasi umum tenaga listrik. Jika porsi pemberian insentif kendaraan pribadi tenaga listrik juga tinggi, hal itu dinilai tidak menyelesaikan masalah.
 
“Polusi memang akan berkurang, namun kemacetan tak berkurang, hanya berganti moda,” kata dia.
 
Djoko menyebut tujuan penggunaan kendaraan tenaga listrik tidak hanya mengurangi polusi udara. Kendaraan itu juga ditargetkan mengurangi kemacetan dan menekan angka kecelakaan.
 
Selain itu, lanjutnya, jika pemerintah ingin mendorong pengembangan sepeda listrik, perlu ada pembatasan kecepatan. Kapasitas silinder harus dibuat kurang dari 100 sentimeter kubik sehingga akselerasinya tidak secepat sepeda motor.
 
“Tujuannya untuk menekan angka kecelakaan, sekaligus mengondisikan pengendara menggunakan transportasi umum untuk perjalanan jarak jauh,” pungkasnya.

MEDCOM