Selasa, 11 Agustus 2020 | 14:45:36 WIB

Virus Corona, Ekonomi, Dan Pengangguran

Kamis, 12 Maret 2020 | 10:19 WIB
  • (FOTO : SUMBER.COM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Dunia digemparkan dengan ditemukannya virus Corona (Covid-19) di Kota Wuhan, China, pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar tidak hanya ke wilayah lain di China, tetapi ke seantero belahan dunia lainnya termasuk Indonesia.

Secara geografis, Wuhan berada di China bagian tengah, sehingga menjadikannya sebagai jantung China. Wuhan juga dikenal dengan sebutan kota sungai, karena lokasinya dilalui oleh sungai Yangtse dan sungai Han. Dari sisi perekonomian, Wuhan dikenal sebagai pusat penyedia dan pengumpul beraneka barang komoditi, sehingga menjadikan Wuhan sebagai pusat perekonomian yang penuh dengan aktivitas roda kehidupan.

Para ekonom menilai, kondisi saat ini mirip dengan krisis keuangan global pada 1997-1998. Jika virus tidak dapat tertangani hingga akhir Maret, maka pada kuartal kedua, wabah virus Corona diprediksi mengakibatkan Pemutusan Hubungan Industrial (PHK) massal di China.

Sektor-sektor yang paling terdampak virus Corona adalah perusahaan-perusahaan sektor jasa seperti restoran dan hotel, pertokoan dan agen perjalanan. Sebagai antisipasi, pemerintah China berupaya mencegah PHK massal dan menstabilkan kondisi ketenagakerjaan dengan meminta Pemerintah Daerah (Pemda) menarik asuransi pengangguran dan dana serupa lainnya.

Tidak hanya China, negara lain pun, baik yang sudah terkena dampak virus Corona maupun yang belum, melakukan berbagai upaya pencegahan, seperti menutup perbatasan negara yang berhubungan langsung dengan China, melarang orang asing masuk ke negara yang bersangkutan dan membatasi penerbangan dari dan ke China.

China, sebagai raksasa ekonomi terbesar kedua setelah Amerika Serikat, perlahan  semakin terpuruk perekonomiannya dan dipastikan apabila kondisi seperti ini terus berlangsung akan berdampak kepada perekonomian dunia. Imbasnya tentu saja  kepada dunia tenaga kerja. Informasi dampak virus Corona terhadap tenaga kerja setiap hari menghiasi media cetak dan elektronik. Produksi perusahaan-perusahaan besar berhenti, perusahaan kecil sampai menengah meliburkan para pekerjanya sebagai langkah pemerintah untuk menahan laju penyebaran virus di tempat kerja. Disadari bahwa langkah tersebut menghambat kegiatan ekonomi, namun efektif untuk mencegah penyebaran virus dan keselamatan tenaga kerja.

Dari dalam negeri, efek domino virus Corona mulai terasa hampir di semua sektor. Pariwisata merupakan sektor yang paling banyak terdampak penyebaran virus ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kunjungan wisatawan China ke Indonesia selama Januari sampai Juni 2019 mencapai 1,05 juta orang, terbanyak kedua setelah wisatawan Malaysia. Para pengelola bisnis pariwisata dengan destinasi yang menjadi incaran para wisatawan dari China, seperti Bali dan Labuhan Bajo sudah merasakan dampak wabah virus Corona terhadap bisnisnya. Ratusan wisatawan dari China, yang telah membayar uang muka, membatalkan perjalanan yang sebelumnya dijadwalkan di bulan Januari hingga Maret.

BKPM mencatat, China menjadi negara terbesar kedua setelah Singapura yang menanamkan investasinya di Indonesia pada 2019 dengan nilai investasi USD4,74 miliar dengan 2.130 proyek. Dengan terfokusnya China tehadap wabah virus Corona, yang diperkirakan memerlukan waktu cukup lama, akan berdampak pada investasi ke Indonesia kedepannya. Virus Corona membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin berat.

Dengan target ekonomi tumbuh 5,3 persen tahun ini, para ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia maksimal tumbuh di 4,9 persen. Bahkan Menteri Keuangan Republik Indonesia (Menkeu RI) mengatakan, dengan basis pertumbuhan ekonomi 5,02 persen pada 2019, tahun ini bisa menurun ke level 4,7 persen. Nampaknya perekonomian dunia secara umum, akan sangat tergantung dari seberapa lama penanggulangan dan efek virus Corona. Semakin lama, dampaknya akan semakin siqnifikan. Tidak hanya pertumbuhan ekonomi yang semakin melemah, dampak negatif pertama yang akan dirasakan masyarakat adalah ancaman pengangguran.   

Antisipasi Virus Corona

Dua bulan lebih sejak merebaknya virus Corona, total yang terinfeksi mendekati angka 100 ribu orang dengan angka kematian hampir 4 ribu orang. Walaupun jumlah yang sembuh sedikitnya 55 ribu orang, namun dengan penyebaran yang semakin meluas mencapai lebih dari 90 negara, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bertindak cepat. Koordinasi yang dilakukan tidak hanya terfokus pada pencegahan virus Corona pada tenaga kerja, tetapi juga terhadap antisipasi dampak sampingannya yaitu ancaman  pengangguran. Terkait dengan hal tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan mengeluarkan kebijakan berupa:

  • Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengeluarkan Surat Edaran Nomor M.1.HK.04/II/2020 terkait pelarangan sementara penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China. Pelarangan bersifat sementara dan akan dibuka kembali sampai negara China dinyatakan aman dan bebas dari virus Corona. Sementara bagi para pengguna tenaga kerja China yang bekerja di Indonesia, diberikan dispensasi kelonggaran untuk mempekerjakan tenaga kerja China, yang harusnya sudah pulang. Mereka bisa dipekerjakan lagi selama 6 bulan kedepan untuk selanjutnya akan dievaluasi perkembangan yang ada.

 

  • Kemnaker menerbitkan Surat Edaran Nomor B.5/51/AS.02.02/I/2020 perihal Kewaspadaan Penyebaran Penyakit Pneumonia Berat Yang Tidak Diketahui Penyebabnya Pada Pekerja. Surat Edaran ditujukan kepada Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Provinsi dan pimpinan perusahaan se-Indonesia.

 

  • Kemnaker menerbitkan Surat Edaran terkait pelarangan pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke China. Sementara untuk pengiriman PMI ke Hong Kong dilakukan pengetatan. Sebelum  berangkat, PMI diberi bekal untuk berhati hati terkait dengan wabah virus Corona termasuk antisipasinya. Surat edaran ditujukan kepada semua Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) yang terdaftar. Pelarangan dan pengetatan ini sebagai tindak lanjut pencegahan penyebaran virus Corona. Intinya pemerintah melarang pengiriman PMI karena menyadari kondisi objektif lapangan ini belum kondusif. Pemerintah akan mencabut larangan sampai negara tersebut dinyatakan aman.

 

 

Pengangguran

 

Sejak merebaknya virus Corona, pariwisata merupakan sektor yang paling terdampak virus ini. Efek domino pun terjadi pada sektor-sektor penunjang, seperti hotel, restoran, retail dan transportasi utamanya maskapai penerbangan yang memiliki pangsa dan nilai investasi yang masif. Pengusaha perhotelan merasakan dampak negatif karena anjloknya okupansi hotel membawa akibat bagi kelangsungan bisnis hotel mereka. Sebagai destinasi utama wisatawan China, rata-rata sebanyak 20 ribu wisatawan China  melakukan kunjungan ke Bali. Karena sepinya wisatawan, banyak pengusaha di Bali meminta karyawannya untuk cuti. Hal ini diperparah dengan diberhentikannya penerbangan dari dan ke China, dan beberapa negara yang terindikasi terkena virus Corona menyebabkan semakin sedikit wisatawan dari manca negara yang datang ke Indonesia.

 

Ancaman virus Corona mulai nampak, perekonomian negara-negara di seantero dunia mulai melemah, pengangguran mengancam para pekerja. Dimulai dari permintaan cuti dan pekerja dirumahkan, para ekonom memprediksi apabila wabah virus Corona tidak segera teratasi, tidak mustahil akan terjadi lonjakan pengangguran.

 

Kondisi sudah nampak, antara lain PT Indosat Tbk yang menawarkan karyawannya untuk mengajukan pensiun dini, dengan iming-iming pesangon yang menggiurkan. Demikian juga belum lama ini produsen es krim AICE, PT Alpha Food Industry (AFI) telah melayangkan surat PHK kepada 300 pekerjanya.   

 

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 7,05 juta orang per Agustus 2019 atau sebesar 5,28 persen. Rencana Tenaga Kerja Nasional Tahun 2020-2024 memperkirakan untuk mencapai TPT sebesar 4,50 persen pada 2024, diperlukan kesempatan kerja baru sekitar 12,8 juta atau 2,56 juta per tahun. Tentunya TPT tersebut akan tercapai apabila didukung dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan mampu menciptakan kesempatan kerja berbasis padat karya. Agar target TPT dapat tercapai, dengan melihat kondisi merebaknya wabah virus Corona dan perekonomian yang semakin lesu, pemerintah secara cepat dan tepat mengeluarkan kebijakan berupa Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 36 Tahun 2020 tentang Pengembangan Kompetensi Kerja Melalui Program Kartu Prakerja.

 

Kartu Prakerja adalah program yang bertujuan untuk pengembangan kompetensi kerja yang ditujukan untuk pencari kerja, pekerja/buruh yang terkena pemutusan hubungan kerja, dan/atau pekerja/buruh yang membutuhkan peningkatan kompetensi. Melalui program Kartu Prakerja diharapkan jumlah penganggur tidak semakin bertambah. Momen ini sangat tepat seiring dengan semakin mengglobalnya virus Corona. Kaitan antara wabah virus Corona, perekonomian, dan tenaga kerja tidak dapat dihindari lagi.

 

Target Program Kartu Prakerja selama 5 tahun (2020-2024) mampu menyerap 10 juta tenaga kerja, dengan perkiraan setiap tahunnya 2 juta. Dengan adanya fenomena virus Corona, seyogyanya dilakukan review target pencapaian setiap tahun. Pertimbangan utama adalah karena program ini baru pertama kali dilaksanakan, dalam kondisi yang tidak normal, dan efektivitas program belum teruji.

 

Pemerintah perlu menyusun perencanaan program Kartu Prakerja – “Penanggulangan pengangguran” melalui 3 skenario pesimis, moderat, dan optimis. Hal ini penting untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang bersifat force majeure atau kondisi yang tidak  dapat dihindari. Terlepas dari itu semua harus diberi apresiasi upaya pemerintah dalam mengantisipasi dampak virus Corona dan perlambatan ekonomi berupa ancaman badai PHK.  (M. Cahyohadi S)

Penulis adalah Pengantar Kerja Madya pada Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker)