Selasa, 11 Agustus 2020 | 14:44:06 WIB

SPKDPS : Presiden Jokowi Agar Kedepankan Nuansa Kekeluargaan, Arief Dan Bijaksana

Rabu, 10 Juni 2020 | 11:19 WIB
  • Mukmin Syarifuddin, S.Sos, M.Si. (FOTO : ISTIMEWA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Solidaritas Pemuda Kepton Diperantauan Pulau Sumatera (SPKDPS) minta Presiden RI. Ir. H. Joko Widodo, mengedepankan nuansa kekeluargaan, arif dan bijaksana

Menurut kami, Solidaritas Pemuda Kepton Diperantauan Pulau Sumatera (SPKDPS), kasus Ruslan Buton, dari aspek ketersinggungan perasaan tentu itu nenyinggung, menyakiti perasaan Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi) Sebab, dalam pidato singkat Rusli Buton (RB), memang jelas meminta Presiden Jokowi mundur disertai penyampaikan soal jangan sampai terjadi Revolusi atau gerakan rakyat meminta presiden mundur. 

Diluar dari soal RB telah melakukan perbuatan yang disangkakan dengan pasal soal perbuatan Hoax, dan sebagainya. Saya selaku Ketua SPKDPS, meminta dengan hormat kepada Pemerintah RI, agar persoalan RB ini jangan terlalu dianggap terlalu serius dan berlebihan, sebab, jika Pemerintah Pusat menanggapi ini berlebihan akan mnjadi ruang besar bagi munculnya persoalan susulan dengan berbagai kepentingan yang dapat menjdikan situasi dan suasana bernegara kita akan menuju kepada hal yang mengkhawatirkan.

Saya berpendapat, baiknya kasus RB mengedepankan kekeluargaan, jiwa yang besar, hati yang lapang, nurani yang hidup di dalam jiwa. Agar kita dapat lebih melihat persoalan negara, solusi situasi negara kita saat ini, terutama strategi untuk khidupan berbangsa dan bernegara dimasa yg akan datang.

Olehnya itu, dengan penuh rasa hormat, dan saya meyakini Bapak Presiden Jokowi memiliki jiwa pemimpin sejati, memohon agar, RB dibebaskan dari situasi yang ada sebagaimana yang terjadi sekarang. Hal tersebut, tentu utk menunjukkan kepada seluruh publik dan seluruh masyarakat se nusantara, bahwa kita adalah bangsa yang lebh mengutamakan suasana kesatuan dalam bingkai kekeluargaan sesama anak bangsa yg dipersatukan dalam ragam suku, ras, bahasa, ada istiadat dan lainnya.

Saya percaya, suasana hebohnya isu soal RB ini, tentu dipahami Bapak Presiden tidak memiliki sisi positif, apalg produktifnya bagi bangsa dan negara.

Padahal, tanpa bermaksud mengkritisi, apalagi merendahkan seluruh unsur pemimpin di negara ini. Saya melihat, apa yg terjadi sekarangg ini semua kita elemen bangsa, baik pemimpin disegala level dan tingkatan, masyrakat biasa, harusnya lebih mengedepankan kebersamaan, saling bergandengan tangan, agar kita dapat melahirkan solusi atas apa yang terjadi.

Tentu, jiwa yg besar, jiwa yg hidup, nurani yang dihidupkan dalam diri itu yang harus kita wujudkan, agar sesama kita semua elemen bangsa, bisa saling memahami, memaklumi, tidak mengkedepankan perasaan tersinggung, apalagi merasa direndahkan. 

Sebab, jika kita semua tidak dapat memahmi posisi diri kita masing - masing diikuti keharusan dalam bersikap arif dan bijaksana atas situasi yg ada, maka persoalan yg smntra melanda bangsa bahkan dunia, baik itu covid-19 dan anjloknya ekonomi, tdk bsa di dapatkan solusi yg solutif jangka pendek maupun jangka panjang. 

Bangsa dan negara ini, benar-benar di uji. Bahkan seluruh bangsa dan negara di dunia. oleh karena itu, kita harus kembali kepada ruh bangsa kita, yakni rasa kemanusian yang sejati, tinggi, kekeluargaan sebagai Gotong Royong, yakni bergandengan tangan. 

Jangan saling melepaskan, saling mendorong, dan saling menyalahkan. Jika ada sesuatu yang dirasakan janggal, maka kita baiknya saling memberi pendapat pandangan dan tidak boleh ada yg merasa diremehkan. Karena suasana ini, ujian bagi pemimpin tentu ulah dan tingkah yang aneh setipa warga negara, sebab pengetahuannya soal negara bisa saja salah. Sehingga baiknya, pemimpin memberikan pemahaman yanh utuh, jelas dan terukur. Sehingga masyrakat, akan memahami akan arah dan harapan yang akan menjadikan jiwa tenang dan damai. 

Sebaliknya, jika pemimpin tidak mengedepankan jiwa yg besar, nurani yang hidup. Maka tentu kasus RB akan menjadi sesuatu yang mengganjal bagi hati publik. Dan bisa saja melahirkan penafsiran yg beragam, disertai situasi covid-19, maka tentulah itu akan tidak baik bagi psikologis seluruh warga negara di seluruh Nusantara.

Untuk kita masyarakat, baiknya lebih memperdalam diri, menenangkan jiwa, hati. Sebab saat sekarang ini, kita hanya bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT, agar semoga kita lebih fokus menenangkan diri. Insya Allah akan turun petunjuk, hidayah dari Allah SWT atas solusi segala persoalan yg ada. Krn kalau kita saling menyalahkan, maka kita akan jauh dari ridho Tuhan, Allah SWT pada akhirnya kita akan menuju kepada situasi yang lebih terpuruk dan semakin terpuruk.

Untuk itu, jika kta semua cinta tanah air,  NKRI, Pancasila, saatnya pemerintah, pemimpin negara dan semuanya, trmasuk kita warga negara untuk tdk memperkeruh suasana. Dan RB baiknya dikeluarkan dan dibebaskan dari segala persoalan hukum. Sebab dinamika itu di dalam kehidupan ini suatu keniscayaan dan sudah merupakan suasana yg tidak bisa dihindari. Apalagi situasi sebagaimana yang kita rasakam bersama. 

Kita sekarang ini harus menyadari, bahwa ujian ini memang berat. Dan untuk bisa lulus ujian, harus kita hadapi dengan jiwa pengasih dan penyayang, saling merangkul dan berangkulan. 

Kehidupan berbangsa, bernegara kita, sedang di uji oleh alam. Dan kita mesti kembali kapada Haqiqat Pancasila, yang didalmnya terkandung nilai - nilai  Ketuhanan dan Kemanusian yang adil dan beradab. 

Semoga kita semua dpat mengambil hikmah dibalik semua situasi yang ada.  (Mukmin Syarifuddin, S.Sos, M.Si)

Penulis adalah Ketua Solidaritas Pemuda Kepton Di Perantauan Pulau Sumatera