Jumat, 04 Desember 2020 | 21:30:25 WIB

Pemdes dan BPD Lata-Lata Potong Dana BLT Covid-19 Sebesar 200ribu Per KK

Selasa, 30 Juni 2020 | 09:33 WIB
  • Ilustrasi - Pembagian bantuan langsung tunai (BLT) pada warga penerima dalam masa wabah covid-19. (FOTO: ANTARA/LINDO)

HALSEL, LINDO – Pemerintah desa (Pemdes) Lata-lata dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) desa Lata-lata pada bulan April 2020 kemarin, pada tahap awal telah membagikan dana bantuan langsung tunai (BLT) dari dana desa sebesar Rp100juta pada 73 orang kepala keluarga (KK) di desa Lata-lata. Dari penyaluran itu, seharusnya warga disana menerima per KK sebesar Rp600ribu.

Namun dalam pembagian itu, pemdes dan BPD Lata-lata melakukan pemotongan dana BLT sebesar Rp50.000 per KK. Alsannya, karena sudah dimusyawarakan antara Pemdes dan BPD Lata-lata, sehingga warga disanapun harus menerima BLT sebesar Rp550ribu per KK.

Entah alasan apa dan kesepakatan apa yang dibuat oleh kedua lembaga ditingkat desa itu, tetapi yang jelas penyaluran dana covid-19 yang sumbernya dari dana desa telah disunat oleh Pemdes dan BPD setempat.

“Saat pembagian BLT di kantor desa pada bulan April kemarin, saudara sekretaris BPD desa Lata-lata bernama Dolfi Jumati yang mengumumkan soal pemotongan itu. Akhirnya warga sebanyak 73 orang termasuk saya juga harus menerima dana BLT itu sebesar Rp550ribu/KK dari Pemdes dan BPD Lata-lata,” kata salah satu warga penerima dana BLT, pada media ini, Selasa (30/06/2020) pagi.

Lebih lanjut ia menegaskan, saat pembagian itu, hadir juga dari jajaran pemerintah desa dan seluruh anggota dan ketua BPD, termasuk kades Lata-lata Abdul Malik Gama.

Tidak ada protes dari warga soal pemotongan itu, namun yang jelas pemotongan dana desa berupa BLT telah disetujui oleh Kades Malik Gama dan Ketua BPD desa Lata-lata Adenan Gama.

“Kami sudah tidak bisa protes pada pemdes maupun BPD saat pemberitahuan pemotongan itu. Jika kami protes maka hak kami sebagai penerima BLT akan hilang, ancam skretaris BPD Lata-lata bapak Dolfi Jumati pada warga saat itu,” tegas warga saat mengutip pernyataan Sekretaris BPD Lata-lata.

"Kalau tahap awal pemotongan kami sudah diberitahukan, tapi tidak jelas asal-usul pemotongan itu, tapi katanya kades yang suruh. Kalau pencairan tahap kedua pemotongannya sudah tanpa pemberitahuan, tiba-tiba amplop kami sudah kurang isinya, dan per KK ada yang dapat 550ribu ada juga yang dapat 450ribu. Apakah ini sudah pencurian atau tidak"

Sementara pada bulan berikut tepat pada bulan Mei 2020, Pemdes dan BPD Lata-lata kembali menyalurkan anggaran BLT tahap kedua kepada 73 KK, namun karena ada penambahan KK, maka pemotongan itu dibebankan lagi sebesar Rp150ribu per KK, dan akhirnya warga disana harus menerima dana bantuan covid-19 yang dikemas dalam bentuk BLT sebesar Rp450ribu per KK.

“Pada bulan Mei kemarin kami dari sekian warga yang dapat dana BLT dari pemdes dan BPD Lata-lata sebesar Rp450ribu per KK. Mereka potong sebesar Rp150ribu per KK, dan pemotongan itu sudah tidak ada lagi pengumuman dari mereka. Saat kami buka amplop di dalamnya tersisa Rp550ribu per KK dan yang data penambahan itu hanya terima Rp450ribu, artinya mereka pencuri Rp200ribu setiap per KK,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala desa dan Ketua BPD Lata-lata saat dikonfirmasi oleh media ini tidak dapat terhubung. Nomor telepon milik sang kades Lata-lata saat dikonfirmasi nadanya mengatakan “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau tidak dapat menerima panggilan”. Sementara pesan singkat yang dikirim oleh media ini tidak dapat dijawab, alias dipending.

Hingga berita ini dilansir, kedua pejabat ditingkat desa itu tidak dapat dikonfirmasi, sejumlah staf dan anggota BPD desa Lata-lata dikabarkan saat ini mereka bersama-sama kadesnya sedang berada dikediaman  Malik Gama di desa Mandaong, kecamatan Bacan Selatan, kabupaten Halmahera

ALDY M