Selasa, 24 November 2020 | 17:03:08 WIB

Tersandung Kasus Korupsi, Kades Paksa Bendahara Desa Ikut Cairkan Dana BLT

Selasa, 7 Juli 2020 | 19:09 WIB
  • Ilustrasi - Pembagian dana BLT di Maluku Utara. (Foto: Ist/Lindo)

HALSEL, LINDO - Kepala desa Lata-lata Abdul Malik Gama, Ketua BPD Lata-lata Adenan Gama, dan Imam Masjid desa Lata-lata Samad Gama, pada Selasa (07/07/2020) pagi, memaksa bendahara desa Lata-lata bernama Inggrit Tuepo untuk mencairkan anggaran bantuan langsung tunai (BLT) dari dana desa senilai ratusan juta dari pihak bank di Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Sesuai hasil percakapan antara sang kades Malik Gama dengan Inggrit terjadi alot dan tawar menawar soal pencairan anggaran BLT tahun 2020 pada tahap ke tiga.

"Inggrit dari pihak bank suruh ngana deng kita kasana hadir sama-sama tanda tangan untuk mencairkan dana BLT. Kalau nagana tidak hadir maka pencairan ini akan tidak bisa. Makanya, saya mohon hadir saja supaya pihak bank bisa kase cair duit itu," kata Malik Gama pada Inggrit via telepon selulernya.

Dalam percakapan itu, Malik meyakinkan pada bendaharanya bahwa hari ini yang ikut mencairkan anggaran tersebut adalah ketua BPD Adenan Gama, dan Imam Masjid Desa Lata-lata Samad Gama. Namun Inggrit tetap ngotot bahwa ia tidak bisa hadir dan ikut bersama sang kades mencairkan dana tersebut.

"Ka Malik saya takut sekali ikut-ikut mencairkan dana BLT, apalagi desa kami sedang bermasalah yang telah dilaporkan ke Kejati Malut. Jujur saja saya takut sekali terlibat hal ini," kata Inggrid lagi.

Lebih lanjut Inggrid menegaskan ia tidak ingin terjebak dalam konspirasi Malik Gama dalam hal pencairan dana BLT pada tahap ketiga. Namun Malik Gama terus memaksa dan meyakinkan pada bendaharanya bahwa dana tersebut tidak akan kaitan dengan bendaharanya, karena Malik Gama menjawab akan bertanggungjawab sepenuhnya soal anggaran itu.

"Tidak usah takut Inggrit, semua anggaran yang kita cairkan hari ini untuk orang banyak dan demi nama baik desa kita. Jadi tidak usah dengar pada siapapun, nanti saya atas nama kepala desa yang bertanggungjawab semua ini," tegas Malik pada Inggrit.

Dari percakapan itu, kesannya bahwa kepala desa Abdul Malik Gama terlalu memaksa pada bendaharanya. Inggrid juga terus bersekukuh bahwa ia tidak mau terlibat jauh soal dana BLT, apalagi uang ini adalah uang yang diperuntukan pada masyarakat yang kena dampak covid-19.

"Saya sangat pusing kepala dan tidak mau terlibat di BLT. Silahkan pecat atau ganti saya saja sebagai bendahara desa Lata-lata. Intinya, saya tidak mau ikut-ikutan dalam laporan warga ke Kejati Malut," papar Inggrit.

Diakhir pembicaraannya, Malik Gama hanya meminta pada Inggrit agar bisa bekerjasama agar pihak bank bisa melihat dia saat mau pencairan dana tersebut.

"Habis cairkan dana BLT Inggrit langsung mundur saja dari jabatan bendahara desa. Yang penting Inggrit hadir saja di bank," kata Malik Gama.

Sementara itu, Inggrit hanya menjawab bahwa pada pencairan tahap pertama dan yang kedua dirinya tidak pernah dilibatkan dalam pencairan itu, lalu kenapa pada tahap ketiga ini dia harus ikut terlibat.

"Waktu pencairan pertama dan pencairan kedua BLT kan saya tidak ikut tandatangan, tetapi uangnya bisa cair. Kenapa ditahap ketiga ini saya harus tampil dan ikut tanda tangan di bank, ada apa ini. Saya pusing dan saya takut pak Malik," papar Inggrit.

ALDY M