Sabtu, 31 Oktober 2020 | 20:04:27 WIB

Warga Minta Polisi Sampaikan Ke Bupati Halsel Pecat Kades Lata-Lata Abdul Malik Gama

Senin, 27 Juli 2020 | 22:02 WIB
  • Warga protes pada kades Lata-lata Abdul Malik Gama di depan kantor balaidesa, Senn (27/07/2020). (Foto: Armin/Lindo)

HALSEL, LINDO - Ratusan masyarakat desa Lata-lata, pada Senin (27/07/2020) pagi, melakukan aksi protes kepada kepala desa, perangkat desa dan petugas polisi yang datang melakukan investigasi soal kasus
pembokaran polindes oleh beberapa warga.

Selain demo masyarakat kepada kades Abdul Malik Gama, warga juga protes kepada tim investigasi dari Kepolisian Kabupaten Halmahera Selatan yang turun di desa Lata lata, guna melihat dan menyelidiki kasus yang dilaporkan oleh sang Kades Abdul Malik Gama.

"Tadi ada tim dari Reserse Polres turun ke desa Lata-lata ada 6 orang dengan tujuan untuk melakukan investigasi soal kasus pembokaran polindes oleh warga. Dalam laporan kades Abdul Malik Gama bahwa ada 2 orang warga yang bernama Bomder Gororos dan Feri Dalope yang telah ikut merusak bangunan tersebut," kata Noku Faici saat berbincang dengan media ini pada Senin (27/07/2020) siang.

Lebih lanjut Noku menjelaskan, bahwa selain kedatangan polisi ke lokasi melakukan investigasi, mereka juga ingin membawa kedua pelaku pengrusakan kasus tersebut. Namun saat petugas ingin meyelediki, kedua warga tersebut tidak berada ditempat. Polisi hanya menjumpai pemilik bangunan rumah bernama Sarlota istri dari Karlos Maici.

"Polisi datang dirumah kedua warga itu untuk dimintai keterangan, namun yang bersangkutan tidak berada di tempat. Akhirnya polisi menjumpai istri Karlos bernama Sarlota. Lalu yang bersangkutan kemudian dimintai keterangan oleh polisi. Kemudian dihadapan polisi Sarlota menjelaskan tentang kronologis kejadian tersebut. Setelah mendengar penjelasan tersebut, akhirnya polisi ingin membawa yang bersangkutan ke kantor polisi di Labuha," tandas Noku.

Sementara itu, Sarlota istrinya Karlos Maici saat dimintai penjelasan soal kasus itu, ia menjawab bahwa dirinya tidak takut jika masalahnya harus dijelaskan langsung ke polisi di Labuha.

"Saya tetap bersedia, dan mau dibawah kemanapun, saya tetap bersedia. Sebelum saya berangkat saya tadi langsung menghubungi anak saya di Ternate. Dan saya katakan bahwa saya akan dibawah ke Labuha, Halmahera selatan, tapi anak saya hanya menjawab bahwa dia akan menemui ibunya di Labuha, jika polisi tetap paksakan membawanya," ujarnya.

Sebelum membawa pelakunya, pihak polisi terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan atasannya dan akhirnya diputuskan yang bersangkutan akhirnya belum bisa dibawah ke Labuha.

"Tadi polisi mau bawa ibu Sarlota cuma tidak jadi di bawa. Menurut keterangan dari polisi ketiga orang saksi tersebut belum bisa dibawah ke Labuha, karena belum ada surat pemanggilan dari kepolisian," ujarnya.

Sementara puluhan warga yang menghadiri acara itu, memberikan penjelasan yang bertubi-tubi, mulai dari kasus korupsi, ancaman pembunuhan, dan perampasan tanah warga dan dusun-dusun milik warga yang diklaim oleh kades Abdul Malik Gama.

Aparat kepolisian yang melakukan investigasi dalam kasus itu akhirnya pusing tujuh keliling. Namun secara nyata polisi akhirnya tahu bahwa keborokan seorang kades yang berlaga ala preman dan suka main hakim sendiri terbongkar.

"Banyak warga yang berteriak, kami tidak suka lagi dengan kelakuan saudara Malik Gama. Polisi harus menindak lanjuti dan segera memberikan sangsi yang setimpal kepada kades Malik," teriak warga.

Sebagian besar warga baik dari pihak muslim maupun dari warga kristiani yang ada dilokasi berteriak-teriak bahwa mereka sudah tidak lagi menyukai sifat dan kelakuan kades Abdul Malik Gama.

"Malik ngana segera turun dari jabatan dari kepala desa. Torang sudah tidak suka lagi ngana pimpin di desa ini. Kami minta kepada tim investigasi agar persoalan ini tolong di sampaikan kepada bapak Bahrain Kasuba selaku Bupati Halmahera Selatan agar pecat Malik dari kepala desa Lata-lata," tegas sejumlah warga lagi.

ARMIN