Sabtu, 31 Oktober 2020 | 20:05:14 WIB

Soal Kasus Perusakan Polindes, Warga Harap Polisi Yang Tangkap Kades Malik Gama

Selasa, 28 Juli 2020 | 11:25 WIB
  • Warga berkerumun saat polisi tiba di desa Lata-Lata, Senin (27/07/2020) (Foto: Armin/Lindo)

HALSEL, LINDO - Penyidik dari jajaran kepolisian Resort kabupaten Halmahera Selatan (Polres-Halsel) mendatangi desa Lata-lata guna melakukan investigasi soal kasus perusakan kantor poliklinik desa (Polindes) milik pemerintah desa Lata-lata, kecamatan Kasiruta Barat, kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), pada Senin (27/07/2020) siang.

Dalam investigasi polisi, banyak sekali petugas menemui para saksi-saksi yang memberikan keterangan soal pembongkaran itu.

Salah satu contoh saksi yang bernama Abad Kosa warga Lata-lata yang memberikan keterangan kepada penyidik, bahwa pembongkaran bangunan rumah yang saat ini di pakai untuk polindes, telah dibongkar oleh keluarga kades itu sendiri. Pembongkaran itu di lakukan oleh ketua BPD Adenan Gama yang juga orang tua dari kepala desa Abdul Malik Gama.

"Sebenarnya yang membongkar bangunan itu awalnya bukan warga pak, tetapi orang tua kades Abdul Malik Gama yang awal membongkar bangunan itu. Perlu bapak-bapak petugas tahu bahwa laporan kades itu bukan kejadian yang sebenarnya, melainkan Malik sengaja memutar balik fakta seakan-akan wargalah yang membongkar bangunan itu. Malik itu pandai bersilat lidah pak, jadi saya mohon pada bapak-bapak polisi jangan terjebak atas kasus ini," kata Abad Kosa pada penyidik dikantor desa Lata-lata Senin (27/07/2020) kemarin.

Dalam kasus ini, menurut Abad Kosa, sang Kades Malik Gama sudah banyak merekayasa peristiwa yang sebenarnya. Dia menuduh seakan-akan wargalah yang membongkar bangunan itu. Padahal dua orang warganya yang bernama Bomber Gororos dan Feri Dalope, yang dituduh itu bukan pelaku yang membongkar bangunan itu.

"Bahwa yang membongkar bangunan tersebut bukan saudara Bomber Gororos dan Feri Dalope, tetapi ketua BPD Adenan Gama," tandasnya.

Abad Kosa juga menceritakan bahwa bangunan yang berdiri diatas lahan tanah milik Maks Maici itu sudah dikuasakan pada Karlos Maici, dan tanah tersebut bukan milik pemerintah desa. Sehingga kata dia, kadeslah yang awal memyerobot lahan itu bukan Karlos yang menyerobot lahan orang lain.

"Sesungguhnya kepemilikan tanah itu adalah bapak mantri Maks Maici, bukan orang lain. Dan saat ini tanah tersebut telah di kuasakan pada bapak Karlos Maici, bukan pada Abdul Malik Gama," ujarnya.

Sementara itu, saksi lain benama Sarlota istri dari Karlos Maici menegaskan bahwa ia tidak terima dan dituduh oleh kades Malik Gama sebagai biang kerok di desa Lata-lata. Dalam kesaksian dirinya pada polisi bahwa ia dan suaminya telah diancam oleh kades Malik Gama akan membunuh, jika mereka terus mempermasalahkan status tanah dan bangunan itu.

"Saya heran kenapa kasus ini jadi terbalik, Malik yang laporkan pada polisi seakan-akan kamilah pelaku perempasan dan pembongkaran bangunan kami ini. Terus terang saya jadi bingung, tapi yang jelas saya sudah ceritakan yang sebenarnya masalah ini pada polisi dan keterangan ini juga didukung oleh fakta dan saksi-saksi yang ada. Saya hanya pasrah pada polisi soal kasus kebenaran itu," ujarnya.

Informasi yang dihimpun oleh media ini, kedatangan tim investigasi dari polres Halsel jumlahnya sebanyak 6 orang. Mereka datang bersama dengan kades Lata-lata Abdul Malik Gama menggunakan transportasi laut jenis spetboot dari Labuha Halsel.

Tim investigasi berada di desa Lata-lata selama 1 jam dalam rangka investigasi kasus pembongkaran polindes milik desa yang dilaporkan oleh kades Abdul Malik Gama pada polisi beberapa waktu lalu yang bersamaan dengan kasus laporan warga soal kasus pengancaman pembunuhan oleh Kades Abdul Malik Gama pada warga Lata-lata pada awal Juli tahun 2020.

ARMIN