Sabtu, 31 Oktober 2020 | 19:59:46 WIB

Pemerintahan Dinasti Abdul Malik Gama di Desa Lata-Lata Mirip Seperti Pimpinan Disebuah Perusahaan

Rabu, 29 Juli 2020 | 12:08 WIB
  • Sosok sang kepala desa Abdul Malik Gama yang diperagakan oleh aksi unjukrasa di gedung Kejati Malut, Ternate, Kamis (23/07/2020). (Foto: Aldy/Lindo)

HALSEL, LINDO - Pemerintahan 'Dinasti' Abdul Malik Gama di desa Lata-lata, kecamatan Kasiruta Barat, kabupaten Halmahera Selatan, penuh dengan misteri dan tak pernah tergoyahkan. Mereka duduk di berbagai posisi strategis dan menjadi juru kunci keselamatan di pemerintahan maupun di badan permusyawaratan desa (BPD).

Bagaimana tidak, lihat saja pemerintahan yang ada di desa itu. Malik sengaja menciptakan sebuah pemeritahan disana ibarat seperti perusahaan besar yang ia pimpin. Jika ada staf atau anggota desa yang sengaja lalai dan mengabaikan perintahnya dia, maka nasibnya akan dipecat dan dikeluarkan dari perusahaan yang ia pimpin.

Kepemimpinan yang ia jalankan selama 4 tahun ini, dia mampu menekan warga atau karyawannya yang masuk dalam kabinet penuh dengan 'Misteri". Malik selama memimpin ia selalu membangun sebuah kekuatan yang pada intinya tidak ada warga atau BPD yang mampu menggulingkan dia. Sebut saja jabatan kades dijabat oleh Abdul Malik Gama, anak dari ketua BPD Adenan Gama. Sementara jabatan Sekrerais desa dijabat oleh iparnya kades bernama Adret Tuepo, bendahara desa dijabat oleh anak dari Sekdes bernama Kristoris Tuepo, sedangkan kaur pembangunan dijabat oleh ipar dari adik kandung bernama Abdul Najar dan posisi kaur pemerintahan dijabat oleh kakak kandung kepala desa bernama Alkafi Gama alias Mukil.

Cerita warga disana bahwa Abdul Malik Gama ini orangnya selalu otoriter (sebuah sikap yang mengambil keputusan terlebih dahulu tanpa mempertimbangkan) dan memiliki kepala pemerintahan yang mempunyai kekuasaan mutlak atau yang disebut diktator.

Selain membuat kebijakan atau keputusan tentang desa secara sepihak, Abdul Malik juga berani mengambil resiko soal langka yang ia putuskan. Semua kendalinya ada ditangan Abdul Malik Gama, dan apapun maunya warga harus menuruti, jika tidak maka nasibnya akan sama yaitu diancam dan dipukul.

Kalau berbicara soal Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) Abdul Malik Gama dan seluruh perangkatnya, termask ketua BPD dan anggotanya pantas disebut bahwa mereka itu layak menyandang gelar KKN. Kata warga, Malik itu orangnya paling sombong, paling kurang ajar, suka adudomba orang, pintar bersilat lidah, suka makan uang rakyat, senang makan harta ribah/rampas hak orang lain, dan suka memprofokator warga yang ada di dalam desa, termasuk kepala desa pemabuk berat.

Berbicara soal kasus korupsi dana desa, dan korupsi anggaran bantuan untuk desa, Malik ini selalu pintar beralibih dan selalu bersilat lidah, karena yang ia lakukan itu adanya pembelaan dan perlindungan oleh semua pemangku kepentingan di dalam desa itu.

Salah satu contoh kasus yang menimpa pada dirinya ialah tuduhan kasus korupsi anggaran dana desa senilai Rp.1,6 miliar itu. Bukan ia lakukan pembantahan atau melakukan kroscek data dan mejawab tuduhan itu melalui aksi nyata didalam desa, melainkan Malik malah menantang para pelapor dengan cara emosi lalu mengacaukan keadaan desa termasuk mengancam membunuh warganya yang telah melaporkan kasus korupsi di Kejaksaan Tinggi Maluku Utara.

Sejumlah masalah yang rentetan yang dihadapi oleh kepala desa Lata-lata Abdul Malik Gama kian hari makin kompleks. Tapi yang bersangkutan hanya memilih pembelaan diri. Dia coba mempengaruhi orang-orang dekatnya yang sudah ia sulap dalam bentuk KKN itu, alhasilnya mereka juga mau ikut secara berjamaah mau membela kebusukan sang kadesnya.

Tidak tanggung-tanggung pembelaan itu Malik rasuki dan mencuci otak mereka dengan janji-janji manis bahkan uangpun jadi alas pelicin agar akal bulusnya bisa berjalan mulus. Orang-orang penting yang ada di sekelilingnya mampu ia pengaruhi dan siap membela habis-habisan soal kasus yang ia hadapi itu.

Jika ada orang yang realitis dan memiliki jiwa demokratis yang jujur lantang ikut berteriak memberatas soal korupsi, maka dia harus siap di depak oleh Malik Gama. Kasus yang dilaporkan warga soal ancaman pembunuhan yang dilakukan Malik Gama adalah salah satu contoh bukti fakta yang sengaja direkayasa oleh sang sutradaranya.

Kalau dilihat fakta kebenaran kasus pembongkaran polindes desa Lata-lata dilapangan, bukan begitu ceritanya yang dilaporkan kades Lata-lata pada polisi. Kasus itu sebenarnya Malik lah yang terlebih dahulu merampas hak orang, lalu dijadikan dasar bahwa tanah dan bangunan itu milik pemerintah desa. Padahal jika digali akar persoalannya, anda akan menemukan sumber kebenarannya yang tersimpan dibalik akar itu.

Pertanyaannya kenapa masalah ini menjadi lain dan sudah menjadi penanganan khusus bagi aparat penegak hukum. Padahal kasus ancaman pembunuhan yang diteriakin oleh kades Malik Gama sangat memiliki bukti rekaman suara dan para saksi-saksi yang kuat, tapi tidak diproses ketahap lanjut. Yang jelas proses kasus ancaman pembunuhan yang dilaporkan oleh ketiga warga desa Lata-lata di polisi hingga saat ini belum selesai. Perkara ini kata warga Lata-lata yang saat ini masih bertahan di Ternate belum mereka cabut dan belum diselesaikan secara kekeluargaan. Proses hukum masih berlangsung di kepolisian dan rencananya kasus ini mereka siap lanjutkan ke meja hijau dan harus mempenjarakan Abdul Malik Gama di balik teralis besi.

Bersambung...

ALDY M