Kamis, 01 Oktober 2020 | 15:13:29 WIB

Ada Apa Dengan Perekrutan TKS TA 2020 Oleh Kemnaker

Rabu, 12 Agustus 2020 | 18:29 WIB
  • Suasana pembekalan TKS oleh Kemnaker. (FOTO : TRIBUNNEWS.COM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Program perekrutan Tenaga Kerja Sukarela (TKS) sebagai Pendamping Program Perluasan Kesempatan Kerja, pada Tahun Anggaran (TA) 2020 oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), dinilai masyarakat ada sejumlah kejanggalan.

Kejanggalan perekrutan Tenaga Kerja Sukarela (TKS) tersebut, mulai dari syarat maksimal usia calon peserta TKS, yaitu maksimal usia 50 tahun dan basic pendidikan minimal adalah adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk calon TKS, sampai dengan hasil seleksi administrasi dan Psikotes untuk calon TKS dari Kemnaker yang dinilai calon TKS TA 2020 tidak transparan.

Padahal, sebelumnya dari tahun ke tahun sejak program ini berjalan, syarat usia untuk TKS adalah usia 25 sampai 35 tahun. Sedangkan syarat basic minimal pendidikan calon TKS adalah Sarjana (S1).

Syarat ini menurut sumber Lindo yang tidak mau disebutkan identitasnya, sudah menurunkan Sumber Daya Manusia (SDM) TKS sebagai pendamping Program Perluasan Kesempatan Kerja, karena selama ini pamerintah konsisten menjaga kualitas TKS, tapi entah kenapa pada Tahun Anggaran (TA) 2020 Kemnaker melalui Direktorat Pengembangan dan Perluasan Kesempatan Kerja, merubah persyaratan tersebut.

Persyaratan tersebut dipertegas dengan dikeluarkannya Surat No. 3/12765/PK.03.02/V/2020 dari Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Ditjen) Binapenta), tertanggal 13 Mei 2020 perihal pelaksanaan kegiatan Pendamping Program Perluasan Kesempatan Kerja Tahun 2020, yang ditujukan kepada Kepala Dinas yang membidangi Ketengakerjaan Propinsi, yang ditandatangani Plt. Dirjen Binapenta Aris Wahyudi.

Pada surat tersebut, dalam hal persyaratan, calon TKS pada point No. 2 : disebutkan calon TKS maksimal 50 tahun dan pada point No. 4 yaitu pendidikan minimal SMA bagi calon TKS.

Menurut Sumber tersebut, pada pelaksanaan perekrutan calon TKS TA 2020 sebanyak 640 orang yang dibutuhkan oleh Kemnaker, diduga sebanyak 570 orang yang lulus seleksi sebagai TKS adalah titipan dari “lantai 2” Kemnaker dan berdampak pada alumni TKS 2019 dan alumni TKS sebelum tahun 2019, yang gagal seleksi TKS TA 2020, baik seleksi administrasi maupun seleksi Psikotes.

Padahal, sebagian alumni TKS TA 2019 dan Alumni TKS sebelum 2019 adalah TKS yang berprestasi sebagai pendamping Program Perluasan Kesempatan Kerja.

“Kejanggalan juga terlihat, ada calon TKS TA 2020 yang tidak lulus seleksi administrasi, namun lulus pada tahap Psikotes. Surat pengumuman kelulusan yang dikeluarkan Direktorat Pengembangan Perluasan Kesempatan Kerja, baik hasil administrasi maupun hasil psikotes, tidak dicantumkan tanggal suratnya. Ini khan sudah aneh," ungkapnya, di Jakarta, Rabu (12/8/20).

Hasil seleksi administrasi dan psikotes banyak diprotes oleh calon TKS TA 2020 yang gagal tes tersebut, karena dianggap calon TKS TA 2020 tidak transparan dari Kemnaker, bahkan sejumlah calon TKI banyak yang mengadukan masalah ini ke Ombudsman.

Lindo pun berkesempatan bertanya lewat handphone kepada Alumni TKS TA 2019, yaitu Irnawati asal Maluku yang merupakan juara Pertama TKS 2019, namun gagal masuk seleksi TKS TA 2020.

"Saya lulus seleksi administrasi tapi gagal pada hasil Psikotes, padahal saya gampang menjawab pertanyaan Psikotes. Saya juga heran kenapa Kemnaker tidak memberikan alasan kenapa saya gagal pada hasil Psikotes," ungkap Irnawati.

Irnawati juga mengaku sudah bertanya lewat What's App (WA) kepada ke Ibu Indyah, Direktur Pengembangan Perluasan Kesempatan Kerja, Kemnaker, kenapa ia gagal ikut Psikotes, tapi Irnawati mengaku Bu Indyah tidak menjawab keluhannya.

Begitu juga Asep Sugito, TKS asal Subang yang juara Ketiga TKS 2019, namun tidak lulus seleksi administrasi TKS TA 2020.

Ditambah, antara lain TKS 2019 asal Subang (Jawa Barat) dan Dian TKS 2019 asal Tegal (Jawa Tengah). Mereka adalah yang gagal ikut test rekrutmen TKS TA 2020, padahal mereka TKS yang aktif dan berprestasi.

"Kenapa TKS yang sudah ikut pendampingan Program Perluasan Kesempatan Kerja pada tahun lalu dan berprestasi, tidak diterima rekrutmen TKS pada tahun ini. Mereka khan bisa ikut dua kali. Seharusnya TKS yang berpengalaman dan berprestasi yang direkomendasikan," ujar Sumber Kemnaker tersebut.

Ia menambahkan, diduga ada TKS TA 2020 yang lulus seleksi tapi usianya diatas 50 tahun, yaitu antara lain TKS inisial SM asal Tegal, AB asal Wonosobo, A asal Aceh dan BH asal Purbalingga. Bahkan diduga ada TKS berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) inisial asal Semarang.

Menurutnya, TKS TA 2020 yang usianya diatas 50 tahun dan ada yang berstatus PNS, melanggar ketentuan syarat dari Surat Ditjen Binapenta kepada Kepala Disnaker.

Ketika masalah ini dikonfirmasi ke Direktur Pengembangan Perluasan Kesempatan Kerja Kemnaker, Indyah Winarsih lewat WA, ia mengatakan perekrutan TKS TA 2020 sudah diatur berdasarkan Juknis.

Sekretaris Direktur Jenderal (Sesdirjen) Binapenta Kemnaker Edi Purnama, ketika di WA Lindo mengenai masalah tersebut, ia tidak menjawab pertanyaan Lindo lewat WA.

Lindo akhirnya mendapat jawaban dari Amiq salah satu Kasie pada Direktorat Pengembangan Perluasan Kesempatan Kerja. Ia mengatakan, dalam perekrutan TKS TA 2020 sebanyak 640 orang, tidak benar 570 orang TKS adalah titipan dari Lantai 2 Kemnaker.

"Untuk Psikotes, yang menentukan lulus Psikotes adalah dari Universitas Indonesia (UI), karena Kemnaker bekerja sama dengan UI dalam Psikotes. Jadi bukan kami (Kemnaker) yang menentukan hasil Psikotes," terang Amiq.

Ia juga menjelaskan, syarat TKS TA 2020 adalah minimal pendidikan SMA dan maksimal usia 50 tahun, adalah kebijakan pimpinan karena pertimbangan masa Pandemi Covid-19. (ARMAN R)