Jumat, 04 Desember 2020 | 17:31:34 WIB

Kejaksaan Agung Tunggu Tahap Dua Tersangka DR

Sabtu, 22 Agustus 2020 | 10:10 WIB
  • (FOTO : ISTIMEWA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Kejaksaan Agung tengah menunggu penyerahan tersangka DR berikut barang buktinya dari penyidik Mabes Polri. Jika berkas dan tersangka DR telah ditahapduakan, maka kasus dengan LP No 288/III/2016/Bareskrim tanggal 21/3/2016 tersebut bakal dapat disidangkan di pengadilan dimana locus delicti kasus tersebut.

Kapuspenkum Kejaksaan Agung, Hari Setiyono, membenarkan kasus antara kreditur (PT Bank OCBC NISP dengan PT Sumber Komoditi Abadi (PT SKA) tersebut telah dinyatakan memenuhi syarat untuk disidangkan atau P21. Penuntut umum dalam hal ini tinggal menunggu tahap dua atau penyerahan tersangka DR berikut barang buktinya, sebagaimana dilansir Lindo dari Suarakarya.id. 

Jika tahap dua sudah dilakukan kemudian disusul pelimpahan berkas ke pengadilan maka kasus tersebut sudah dapat disidangkan di pengadilan. “Jaksanya sudah menyatakan P21, tinggal menunggu waktu untuk disidangkan saja setelah dilakukan tahap dua tentunya,” kata Hari, Rabu (19/8/20).

PT Bank OCBC NISP Jakarta sebagaimana diketahui  melaporkan nasabahnya atau debitur (PT SKA) ke Bareskrim Mabes Polri. Pasalnya, kata penasihat hukum PT Bank OCBC NISP Syukur Restu E Marunduri,  Direktur PT SKA yaitu SI dan kuasa Direktur Utama (Dirut) PT SKA DR serta principal Dirut Ed I (sudah meninggal) diduga keras telah melakukan tindak kejahatan pencucian uang (TPPU), penipuan dan penggelapan serta pemalsuan sesuai laporan pihak korban/bank sebagaimana tertuang di nomor register LP/288/III/2016/Bareskrim tanggal 21 Maret 2016.

Dalam laporan polisi yang dilakukan sejak empat (4) tahun silam itu, PT Bank OCBC NISP dirugikan sekitar Rp300 miliar pada tahun 2016. Sebelum ini penanganan kasus tersebut sempat bagai berjalan di tempat. Namun kini setelah P21 bisa saja langsung disusul dengan tahap dua. Hanya saja belum dijadwalkan atau belum diketahui kapan dilaksanakan tahap dua tersebut.

Masih dalam laporan polisi disebutkan, kasus yang merugikan PT Bank OCBC NISP tersebut berawal dari permohonan kredit. Namun, setelah disetujui permohonan kredit oleh pihak Bank OCBC NISP ternyata tidak dipergunakan sesuai yang diperjanjikan/dimohonkan. Untuk mendapatkan kredit tersebut, pihak pemohon dalam hal ini PT SKA dengan direksinya memberikan jaminan. Jaminan atau agunan yang diberikan PT SKA berupa Deliveri Order (DO) gula. Ada dugaan sebagian besar DO tersebut fiktif.

Bank OCBC NISP sendiri sebelum membuat laporan di Bareskrim Mabes Polri, telah berulang kali mengirim surat agar uang yang diterima PT SKA dikembalikan. Namun, pihak perusahaan tidak mau mengembalikan uang berupa kredit yang sudah diterima dan dipergunakan. “Pihak bank sudah berupaya menyelesaikannya secara kekeluargaan dengan menagih secara baik-baik. Tetapi tidak direspon niatan itu dengan membayarnya entah itu dengan cara mencicil.

Tidak sabar lagi, OCBC NISP pun akhirnya melaporkan kasusnya ke polisi. Ternyata tidak hanya itu saja dilaporkan. Tetapi juga ada kasus lain dengan tersangka sama DR sesuai Lp No 483/IV/2018/Bareskrim tanggal 10 April 2018 dengan pelapor PT Bank OCBC NISP.  Tidak itu saja, ada lagi laporan polisi terkait kasus penggelapan sertifikat tanah milik keluarga Emiliana Tambunan yang juga merugikan pihak korban puluhan miliar rupiah. (ARMAN R)