Selasa, 24 November 2020 | 16:05:45 WIB

Takut Dicecer Warga, Kades Lata-lata Bawa Kaur Pemerintah Yang "Fuma"

Jum'at, 4 September 2020 | 14:23 WIB
  • (Foto: Armin/Lindo)

HALSEL, LINDO - Pemerintah Desa Lata-lata, melalui kepala desa, dan stafnya, ketua badan permusyawaratan desa (BPD) serta anggotanya pada Kamis (03/09/2020) kemarin, datang memenuhi undangan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) dalam rangka hearing bersama warganya untuk mempertanggung jawab soal kasus korupsi yang selama ini dituduhkannya.

Dalam hearing itu, warga ingin kepala desa (kades) Abdul Malik Gama harus bertanggungjawab soal penggunaan anggaran yang selama ini ia korupsi. Lucunya lagi, dalam hearing itu, kades sengaja membawa sejumlah staf dan anggota BPD, termasuk imam desa Lata-lata, yang katagori "orang fuma semua" orang-orang yang tidak paham soal posisi jabatan termasuk pengelolaan pemerintahan dalam desanya.

Demikian hal itu diatakan Ketua Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Desa Lata-lata (HIPPMADEL) Arnol Faici usai hearing bersama dewan, di kantor DPRD Halsel, pada Kamis (03/09/2020) kemarin.

Dalam rapat tanya jawab itu, sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh warga pada kepala desa, ketua BPD, dan sejumlah stafnya tidak ada yang dijawab sesuai pertanyaannya.

"Tanya lain dijawab lain. Masa uang honor kerja warga dibayar ke orang lain, kan tidak masuk akal jawaban kades Malik Gama," kata Arnol.

Dalam keterangannya, Arnol mengakui bahwa perangkat desa yang ada dibawah pemerintahan Malik Gama orang-orang yang tidak paham soal regulasi pemerintahan, sehingga itu, mereka semua tidak paham soal mekanisme cara kerja pemerintah maupun anggota BPD.

"Orang yang paling diam dan tidak ada suara sejak masuk sampai keluar dalam forum kemarin adalah Ketua BPD Adenan Gama. Sebagai wakil dari warga seharusnya posisi harus menyuarakan aspirasi warganya. Ketua BPD, hanya duduk diam tidak bisa berbicara apa-apa, dia seperti patung saja tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya untuk melakukan pembelaan terhadap dirinya maupun warganya," tegasnya.

Arnol menjelaskan bahwa ketidak mampuan menjawab pertanyaan warga pada forum kamarin karena mereka semua minimnya pengetahuan pendidikan, sehingga pemahaman untuk menjelaskan persoalan kasus didalam desa tidak ada yang berani. Semua kaur termasuk ketua BPD, imam masjid desa Lata-lata juga ikut memilih diam, mereka tidak mau berkomentar apa-apa.

"Sekdes, ketua BPD dan kaur lainnya termasuk imam masjid tidak bisa bicara apa-apa, mereka semua memilih diam dan tidak mau keluarkan kata-kata apapun. Mereka memilih diam tidak mau ambil resiko saat menanggapi pertanyaan warga. Lebih baik duduk diam daripada ngana dapa hujat dari kami," tegas Arnol.

Dalam forum kemarin warga ingin agar Abdul Malik Gama segera mengundurkan diri dari jabatan sebagai kepala desa Lata-lata. Karena posisi dia saat ini sudah tidak layak lagi menjadi seorang pemimpin di desa Lata-lata.

"Sifat dan kelakuan Malik sudah bukan sebagai seorang pemimpin yang tauladan di desa kami. Malik itu orangnya arogan dan sombong, suka menghasut warga ketika ada masalah dalam desa. Maka dari itu kami minta dia segera undur diri dari jabatan kepala desa, karena warga sudah tidak suka dia lagi," papar Arnol.

Seperti diketahui struktur pemerintah dalam kabinet Malik Gama, saat ini ialah; Kepala Desa Abdul Malik Gama, Ketua BPD Adenan Gama (ayah kandung kades Malik Gama), Sekdes Adret Tuepo (kaka ipar Malik Gama), Kaur Tata Usaha Rusdi Gama (kakak kandung Malik Gama), anggota BPD Al Kafi Gama (kakak kandung Malik Gama, anggota BPD Uta Jumati (keluarga dekat Malik Gama), bendahara desa Kristoris Tuepo (ponakan dari Malik Gama), ketua pemuda versi kades Ayub Kananga, imam masjid Samad Gama (kakek Malik Gama), dan pendeta Gereja GPM Lata-lata Jet Wuri Timur.

ARMIN/AD