Jumat, 04 Desember 2020 | 18:11:15 WIB

Hartono Tanuwidjaja : Kejagung Gagal Tangkap Satu Buronan WN USA Selama 3 Tahun...??

Minggu, 6 September 2020 | 07:34 WIB
  • (FOTO : ISTIMEWA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Terpidana buron yang satu ditangkap atau dieksekusi, sedangkan yang lainnya masih bebas berkeliaran. Begitulah yang terjadi dalam kasus sejumlah terpidana yang lebih banyak masih berkeliaran dibandingkan dieksekusi di wilayah hukum Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Pusat (Jakpus)

Terpidana Donny Andy Sarmedi Saragih  yang sebelumnya telah ditetapkan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) agaknya tidak seberuntung terpidana Dalton Ichiro Tanonaka, eks presenter televisi, Warga Negara (WN) Amerika Serikat (AS), dan terpidana pembobol bank Candran J Punjabi, Feriani Kusuma Intan, Almrira Xaveria Kwani. Donny sudah gagal menjadi Dirut PT TransJakarta, tidak bisa pula lama dalam pelariannya, sebagaimana dilansir Lindo dari Suarakarya.id.

Tidak sebagaimana halnya Dalton Ichiro Tanonaka dan Candran J Punjabi, Feriani Kusuma Intan, Almrira Xaveria Kwani. Meski sama-sama terpidana yang masuk DPO, keempat terpidana itu bisa lebih lama main petak umpet dengan aparat. Terpidana buron Dalton Ichiro Tanonaka bisa mengajukan upaya hukum luar biasa, yaitu permohonan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA) lewat sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakpus.

Apa sesungguhnya yang membedakan Donny dengan keempat terpidana buron tersebut hingga mereka lebih lama berkeliaran di luar penjara ?, Khususnya Dalton Ichiro Tanonaka?. Adakah kaitannya dengan permainan (uang dan backing) ?.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jakpus Riono Budisantoso SH MA yang beberapa kali dimintai konfirmasi tentang keleluasaan Dalton menghirup udara segar padahal dijatuhi tiga (3) tahun penjara oleh Mahkamah Agung (MA), tidak berhasil. Hanya dalam satu kesempatan Riono Budisantoso memberi penjelasan singkat, bahwa pihaknya berusaha mengeksekusi terpidana agar menjalani hukumannya yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap.

Informasi yang berkembang di Kejari Jakpus menyebutkan, Dalton Ichiro Tanonaka dibackingi kelompok salah satu pejabat tinggi negara. Backing tersebut cukup diperhitungkan tidak hanya pihak Kejari Jakarta Pusat, tetapi juga oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI bahkan Kejaksaan Agung (Kejagung). 

Atas adanya backing itulah, disebut-sebut eksekutor tidak dapat beraksi saat Dalton Ichiro Tanonaka mengajukan permohonan PK lewat penasihat hukum yang juga mantan pejabat tinggi Kejaksaan Agung.

Dalton Ichiro Tanonaka, WN AS berkebangsaan Jepang divonis oleh majelis hakim MA dalam perkara No :761.K/PID/2018. Majelis hakim MA yang diketuai Sri Murwahyuni dengan hakim anggota Desnayeti M dan Sumardijatmo ini menyatakan bahwa Dalton Ichiro Tanonaka telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan terhadap saksi korban/pelapor HPR sebesar 500 ribu dolar Amerika Serikat (AS).

Hartono Tanuwidjaja, SH MSi MH CBL selaku kuasa hukum Pelapor menyebutkan, kliennya
berharap jaksa segera melakukan eksekusi terhadap terpidana Dalton sesuai perintah atau putusan MA yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. 

“Sebaiknya jaksa jangan membuang-buang waktu untuk menjebloskannya ke penjara. Hukuman itu kan sesuai dengan perbuatannya. PK yang tengah ditempuh terpidana pun sama sekali tidak menunda pelaksanaan eksekusi," ujar Hartono, di Jakarta, Sabtu (5/9/20).

PN Jakpus menghukum terdakwa Dalton Ichiro Tanonaka 2 tahun 6 bulan penjara. Namun oleh majelis hakim Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang diketuai A Sholeh Mendrofa, Dalton Ichiro Tanonaka dibebaskan. Putusan yang waktu itu disebut-sebut atau diduga kental factor X itu kemudian dianulir MA. MA bahkan memperberat hukuman Dalton di tingkat pertama menjadi tiga tahun masuk bui. (ARMAN R)