Kamis, 13 Mei 2021 | 13:22:24 WIB

Peran Strategis TKS Dalam Pendampingan Usaha

Rabu, 6 Januari 2021 | 12:04 WIB

Oleh Bery Komarudzaman, SH, Pengantar Kerja Ahli Madya Kemnaker

 

Istilah “pendampingan” merupakan istilah baru yang muncul sekitar 90-an, sebelum itu istilah yang banyak dipakai adalah “pembinaan”. Ketika istilah pembinaan ini dipakai terkesan ada tingkatan yaitu ada pembina dan yang dibina, pembina adalah orang atau lembaga yang melakukan pembinaan sedangkan yang dibina adalah masyarakat. Kesan lain yang muncul adalah pembina sebagai pihak yang aktif sedang yang dibina pasif atau pembina adalah sebagai subjek dan yang dibina adalah objek.

 

Ketika Istilah pendampingan dimunculkan, langsung mendapat sambutan positif dikalangan praktisi pengembangan masyarakat. Karena kata pendampingan menunjukan kesejajaran (tidak ada yang satu lebih dari yang lain), yang aktif justru yang didampingi sekaligus sebagai subjek utamanya. Sedang pendamping lebih bersifat membantu saja. Dengan demikian pendamping dapat diartikan sebagai satu interaksi yang terus menerus antara pendamping dengan anggota kelompok atau masyarakat. Hingga terjadinya proses perubahan kreatif yang diprakarsai oleh anggota kelompok atau masyarakat yang sadar diri dan terdidik (secara nonformal). Pendamping adalah pemandu wirausaha di kemenaker populer disebut TKS (Tenaga Kerja Sukarela) yang berperan sebagai fasilitator, motivator dan mediator bagi kelompok usaha masyarakat dan pencari kerja.

 

Dari pengertian pendampingan adalah terjadinya proses perubahan kreatif yang diprakarsai oleh masyarakat sendiri, maka itu berarti adanya proses inisiatif dan bentuk tindakan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri, tanpa adanya intervensi dari luar.

Dengan demikian tujuan utama pendampingan adalah adanya KEMANDIRIAN kelompok masyarakat. Kemandirian disini menyiratkan suatu kemampuan otonom untuk mengambil keputusan bertindak berdasarkan keputusannya itu dan memilih arah tindakannya sendiri tanpa terhalang oleh pengaruh dari luar atau yang diinginkan oleh orang lain/pihak lain. Untuk mencapai kemandirian yang demikian dibutuhkan suatu kombinasi dari kemampuan materi intelektual, organisasi dan manajemen. Dengan demikian terdapat 3 elemen pokok yang perlu diketahui dalam kemandirian, yaitu :

1. Kemandirian Material, kemampuan produktif guna memenuhi kebutuhan dasar dan mekanisme untuk tetap dapat tetap bertahan pada waktu krisis. Hal ini bisa diperoleh melalui pertama proses mobilisasi sumberdaya pribadi dan atau keluarga dengan mekanisme menabung dan penghapusan sumberdaya non produktif. Penegasan tuntutan atas hak-hak ekonomis, seperti : Surplus yang hilang karena pertukaran yang tidak seimbang.

2. Kemandirian Intelektual, pembentukan dasar pengetahuan otonom oleh masyarakat yang kemungkinan mereka menanggulangi bentuk-bentuk dominasi yang muncul. Dengan dasar tersebut masyarakat akan dapat menganalisa hubungan sebab-akibat dari suatu masalah yang muncul.

3. Kemandirian pendampingan, kemampuan otonom masyarakat untuk mengembangkan diri mereka sendiri dalam bentuk pengelolaan tindakan kolektif yang membawa pada perubahan kehidupan mereka. (sebagai catatan : dalam proses pendampingan ada intervensi pendamping dari luar, maka pada tahap kemandirian pendamping kelompok masyarakat berasal dari dalam).

 

 

Bila tujuan pendampingan kelompok masyarakat adalah terwujudnya kemandirian dibidang materi intelektual, organisasi dan manajemen, oleh karena itu fokus pendampingan harus mengarah pada pencapaian tujuan tersebut, yakni melalui : 

1. Penyadaran berfikir kritis dan analitis

Yaitu mengajak anggota kelompok terbiasa untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi dengan meneliti hubungan sebab-akibat yang ditimbulkan dari masalah tersebut.

2. Penggunaan atas hak dan kewajiban individu dan kolektif

Yaitu mengajak anggota kelompok terbiasa bertindak atas dasar hak dan kewajiban yang dimiliki.

3. Tertib administrasi dan keterbukaan organisasi

Yaitu mengajak anggota kelompok terbiasa bahwa tertib administrasi dan keterbukaan didalam organisasi bukan didasari kecurigaan tetapi justri merupakan cermin pertanggungjawaban diantara mereka.

4. Pengembangan sumber daya produktif

Yaitu mengajak anggota kelompok sadar agar dalam mengembangkan usaha bukan sekali “beruntung”. tetapi usaha yang untung secara berkelanjutan. Hal ini berarti dalam berusaha bukan hanya mengambil/memanfaatkan tetapi juga harus mampu melestarikan dan mengembangkan sumberdaya produktif yang ada.

 

Secara garis besar TKS sebagai pendamping masyarakat memiliki tugas utama yaitu membantu masyarakat untuk memutuskan/menetapkan tindakan yaitu dan memberikan banyak informasi kepada masyarakat, agar masyarakat memiliki pengetahuan yang memadai untuk memilih dan menetapkan tindakan yang dapat menyelesaikan masalah mereka.

 

Dengan kemampuan fasilitasinya TKS mendorong masyarakat untuk mengenali masalah atau kebutuhannya (berikut potensinya) dan mendorong masyarakat untuk mengenali kondisinya. Menjadi begitu penting karena hal ini adalah langkah awal untuk memulai kegiatan yang berorientasi pada peningkatan kemampuan masyarakat. Keterampilan fasilitasi dan komunikasi sangat dibutuhkan untuk menjalankan peran ini.

 

Dengan keterampilan khusus yang diperoleh dari lingkup pendidikannya atau dari pengalamannya, TKS dapat memberikan keterangan-keterangan teknis yang dibutuhkan oleh masyarakat saat mereka melaksanakan kegiatannya. Keterangan-keterangan yang diberikan oleh TKS bukan bersifat mendikte masyarakat melainkan berupa penyampaian fakta-fakta atau contoh-contoh agar masyarakat lebih muda untuk mengambil sikap atau keputusan. Dalam kaitan pemberdayaan masyarakat, peran utama TKS adalah melakukan pembelajaran kepada masyarakat.

 

 

Kaderisasi

Yaitu mengajak anggota kelompok sadar bahwa dalam suatu proses pendampingan dimana adanya intervensi dari luar yakni TKS sebagai pendamping pada saatnya akan berakhir dan harus digantikan oleh pendamping yang datang dari dalam kelompok itu sendiri.

Dalam pembahasannya sebelumnya telah diuraikan bahwa dalam proses pendampingan kelompok masyarakat pada awalnya akan terjadi intervensi dari luar yaitu dengan adanya pendamping dari luar. Tetapi ketika kelompok telah mencapai tahap kemandirian, maka peran TKS sebagai pendamping dari luar akan digantikan oleh pendamping dari dalam kelompok itu sendiri. Oleh karena itu siapapun dan dari manapun, seorang pendamping kelompok masyarakat adalah mereka yang : 

• Mempunyai komitmen pada pengembangan kaum marginal.

• Percaya pada kreativitas kaum marginal/miskin.

• Mempromosikan pembebasan kemampuan kreatif kaum miskin.

• Membantu menanggulangi rintangan menuju pada tindakan.

• Obyektif, pandangan bebas dari prasangka atau tidak terikat pada suatu paham pengetahuan tertentu, tetapi lebih mendasarkan pada suatu perspektif sosial tertentu yang ada pada masyarakat.

 

Para TKS inilah selanjutnya yang kita sebut sebagai para agen pembaharuan. Mendasarkan pada pengertian tersebut diatas sejumlah peran kiranya bisa diambil oleh seorang TKS, tetapi dalam besarannya dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :

1. Konsultan

Dalam hal ini pendamping harus mampu menjadikan dirinya tempat bertanya, menampung permasalahan atau kendala-kendala yang dihadapi para fungsionaris kelompok masyarakat dan memberikan alternatif pemecahan masalah dengan tetap ada ditangan kelompok masyarakat sendiri.

2. Fasilitator

Sebagai seorang “fasilitator”, pendamping harus mampu memfasilitasi terjadinya proses dinamis dalam pengembangan masyarakat menuju pada perubahan yang lebih baik. Dalam perannya inilah seorang pendamping sering disebut sebagai process provider. Sebagai process provider seorang pendamping harus mampu memberikan motivasi (motivator) kepada kelompok masyarakat yang putus asa, pasrah, “nrimo”, bahkan pesimis dan apatis supaya menjadi lebih bersemangat dan berpengharapan untuk menyongsong masa depan lebih baik. Ada kalanya kelompok masyarakat mengalami stagnasi dan pasif, untuk itu pendamping harus mampu mendinamisasi (dinamisator) supaya proses transformasi dan pemberdayaan terjadi secara berdaya guna sehingga mencapai tujuan yang diharapkan. Pendamping juga harus mampu memfasilitasi kebutuhan kelompok dalam hubungannya dengan pihak luar. Baik dalam hal menemukan akses sumberdaya, pasar maupun dalam mempromosikankelompok agar mendapatkan pengakuan dari pihak luar. Dalam hal ini peran melakukan mediasi atau sebagai mediator (bridging) terjadi.

3. Pelatih

Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta terjadinya perubahan sikap dalam diri para fungsionaris maupun anggota kelompok, maka seorang pendamping juga harus mampu menjadi pelatih bagi kelompok masyarakat.

 

 

Ketiga peran tersebut diatas sebenarnya bukan peran yang berdiri sendiri-sendiri tetapi merupakan satu kesatuan, dimana satu dengan yang lain akan saling berkaitan dan mendukung. Sebagai contoh : sebagai seorang pelatih, seorang pendamping memiliki keterbatasan kemampuan dalam hal pelatihan teknis (seperti : cara membuat tahu atau barang barang kerajinan). Untuk itu pendamping harus tetap mengupayakan pelatih dibidang tersebut dengan jalan mengfungsikan peran yang lain yaitu sebagai fasilitator untuk menghubungkan atau mencari orang lain yang dapat memberikan pelatihan teknis tersebut. Dengan demikian tidak harus semuanya dia sendiri yang melakukan.

 

 

Untuk mendukung ketiga peran tersebut diatas, seorang TKS dituntut memiliki beberapa keterampilan pokok, yaitu : 

1. Berkomunikasi dua arah (horisontal)

Bila kota konsisten dengan pengertian pendampingan seperti telah diuraikan sebelumnya, maka dalam berkomunikasi harus dua arah dan horisontal. Hal ini ditekankan guna menjaga hubungan yang sejajar antara pendamping dengan kelompok, hubungan antara subyek dengan subyek bukan subyek dengan obyek.

2. Beradaptasi (penyesuaian diri)

Kemampuan beradaptasi ini hendaknya dilihat bukan hanya secara sepihak dalam arti pendamping harus mampu menyesuaikandiri dengan gaya hidup adat atau kebiasaan masyarakat. Tetapi juga kemampuan untuk mengajak masyarakat menerima hal-hal bari diluar gaya hidup atau kebiasaan mereka selama ini. Kesalahan selama ini pendamping yang selalu bisa beradaptasi terhadap masyarakat, tetapi apalah artinya pendamping yang bisa melakukan penyesuaian diri tetapi gagal membawa kelompok masyarakatnya menyesuaikan terhadap perubahan yang dihadapi.

3. Studi dan Analisis Sosial

Seorang pendamping harus dapat memahami dinamika dan realita sosial yang dihadapi masyarakat. Disisi lain tujuan pendamping adalah kemandirian kelompok masyarakat dengan pendekatan dan peningkatan partisipasi masyarakat. Oleh karena itu maka seorang pendamping dituntut untuk selalu mengasah kemampuannya dalam melihat dan menganalisis kondisi sosial akurat dan tepat seperti kemiskinan, ketergantungan dan keterkaitan proses sosial baik pada tingkat mikro maupun makro.

4. Menangani ketegangan dan konflik

Menangani ketegangan dan konflik disini bukan hanya yang terjadi didalam kelompok masyarakat, tetapi juga menyangkut yang diluar kelompok. Sebab tugas sependamping dengan masyarakat menyangkut dua kepentingan yang berbeda. Mereka yang menolak perubahan atau dirugikan oleh inisiatif mandiri masyarakat, akan memilih pendamping sebagai target serangan.

Contoh : keterikatan antara masyarakat dengan tengkulak/pengijon. Maka kemandirian masyarakat sebagai dampak dari proses pendampingan akan dilihat sebagai ancaman terhadap pekerjaan mereka. Oleh karena itu pendamping akan dilihat sebagai musuh oleh para tengkulak/pengijon tersebut.

5. Belajar secara terus menerus

Bukanlah suatu pekerjaan yang mudah bagi pendamping (apalagi yang ada didaerah pedalaman) untuk dapat belajar terus menerus. Dalih keterbatasan dana, transportasi dan sumber belajar akan menjadi alasan yang sah padahal kemampuan seorang pendamping tidak akan cukup bila hanya mendasarkan pada pelatihan awal sebagai persiapan sebagai pendamping. Bila menyadari bahwa kelompok masyarakat pun mengalami perubahan dan perkembangan, jelas banyak kemampuan pendamping bila tidak dikembangkan tidak akan mampu mengikuti perkembangan kelompoknya. Sumber belajar bagi pendamping hendaknya dilihat bukan hanya sebatas pelatihan dan buku, tetapi interaksi dengan berbagai pihakpun akan dapat dijadikan sumber belajar yang efektif.

6. Menghapuskan diri

Kemampuan menghapuskan diri menjadi yang paling menantang bagi seorang pendamping bukan karena sulit untuk dilakukan, tetapi lebih karena adanya hambatan psikologis. Seorang pendamping dengan bangganya akan menceritakan bagaimana kelompok masyarakat “menangis” dan merasa kehilangan ketika ia mengakhiri tugasnya sebagi pendamping disana. “Kalau Bapak pergi siapa lagi yang akan mendapingi kami ?” Pendamping akan merasa kecewa atau gagal bila kelompok masyarakat mengatakan : “terima kasih Pak atas bantuannya selama ini, kami sekarang tidak perlu bantuan Bapak lagi, kami sudah bisa membangun kampung sendiri”. Padahal keberhasilan dalam proses pendampingan ialah ketika kelompok masyarakat yang didampingi telah mandiri dan mempunyai pendamping yang berasal dari mereka sendiri untuk melakukan proses pendampingan selanjutnya.

 

Aktifitas pendamping kelompok usaha

Tahap Persiapan

- Pemandu memperkenalkan diri kepada masyarakat.

- Mensosialisasikan maksud dan tujuan kegiatan pendampinga.

- Mengidentifikasikan potensi SDM dan SDA.

- Membantu proses rekrutmen dan seleksi anggota kelompok dampingan.

 

Tahap Perencanaan Usaha Kelompok Dampingan

- Mengumpulkan dan mengolah data hasil identifikasi 

- Merekomendasikan jenis usaha yang bisa dijalankan

- Menganalisis kelayakan usaha

- Merencanakan pola pendampingan kelompok

- Menginventarisir lembaga mitra

 

Tahap Membimbing Usaha

- Membangun kelembagaan kelompok dampingan

- Pembinaan usaha kelompok/perorangan

- Membuka jejaring dengan lembaga mitra 

- Memfasilitasi kebutuhan pengembangan usaha bagi kelompok dampingan

- Monitoring dan evaluasi

 

Pengetahuan yang harus dikuasai TKS sebagai pendamping?

1. Memahami isu-isu ketenagakerjaan yang ada dilokasi penguasa

2. Memahami kondisi social budaya masyarakat dilokasi penugasan seperti struktur masyarakat, mata pencarian, norma, adatistiadat, dst.

3. Memahami teknik wawancara dan publik speaking,

4. Memahami manajemen usaha kecil, seperti administrasi keuangan sederhana, perencanaan biaya laba rugi, teknik pemasaran, perencanaan produksi, dst.

5. Memahami konsep pemberdayaan masyarakat (Integrity Community Development).

6. Mampu mengoperasikan komputer dan jaringan internet.

7. Memahami teknik evaluasi dan penyusunan laporan.

 

Mitra Pendamping

1. Pelaksana teknis Disnaker ditingkat Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat.

2. Aparat pemerintah dan pemangku kepentingan lain (stakeholder).

3. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat.

4. Lembaga Pelatihan dan Perguruan Tinggi.

5. Lembaga Keuangan Mikro dan Perbankan.

6. Lembaga Adat dan Tokoh Masyarakat.

7. Perusahaan daerah, BUMD, BUMN dan swasta.

 

Dengan demikian kemampuan seorang TKS sebagai pendamping untuk menciptakan kader-kader pendamping yang berasal dari kelompok masyarakat itu sendiri merupakan indiktor utama keberhasilannya sebagai pendamping, jadi bukan sebaliknya. Sebab proses pendampingan bukan untuk menciptakan ketergantungan baru bagi kelompok masyarakat.

 

Kegiatan pemberdayaan masyarakat yang baik, pada umumnya mensyaratkan adanya proses pendampingan. Ini menjadi penting karena objek pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat dengan dinamikanya yang beragam. Fungsi pendampingan adalah untuk memfasilitasi, memotivasi masyarakat serta mengawal agar kegiatan pemberdayaan sesuai dengan maksud dan tujuan yang dikhendaki. Dalam rangka memandu pelaksanaan bimbingan usaha sektor informal dilaksanakan tugas pendampingan.